Ketika Cinta Harus Dibuktikan dengan Kesetiaan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan sekadar tentang dua manusia yang dipertemukan dalam satu akad. Ia adalah perjalanan panjang tentang belajar memahami, bersabar, memaafkan, menjaga kepercayaan, dan saling menggenggam tangan ketika kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kesadaran itulah yang menjadi bagian penting dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan Abdul Khanan, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, kepada calon pengantin Nazri Yunus dan Mayzatul. Jumat (07/08)
Bimbingan tersebut menjadi ruang bagi kedua calon pengantin untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga. Tidak hanya berbicara tentang kesiapan menuju akad nikah, Abdul Khanan memberikan pemahaman bahwa kehidupan setelah ijab kabul justru merupakan perjalanan yang sesungguhnya. Sebuah perjalanan yang membutuhkan ilmu, kesabaran, kedewasaan, komunikasi, dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama.
Dalam Bimwin tersebut, Abdul Khanan menyampaikan materi tentang keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Ketiga nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga memiliki ketenteraman hati, kasih sayang, dan rahmat Allah SWT.
Kepada Nazri Yunus dan Mayzatul, dijelaskan bahwa sakinah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah memiliki masalah. Sakinah adalah kemampuan pasangan untuk tetap menemukan ketenangan ketika masalah datang. Rumah yang sakinah bukan rumah yang tidak pernah dihiasi air mata, tetapi rumah yang membuat setiap air mata menemukan tempat untuk diusap dan setiap kesedihan menemukan seseorang yang bersedia berkata, “Kita hadapi bersama.”
Sementara mawaddah mengajarkan tentang cinta yang tidak berhenti pada perasaan. Cinta harus diwujudkan dalam perhatian, penghormatan, kesetiaan, dan kesediaan untuk memahami pasangan. Cinta bukan hanya tentang bagaimana seseorang bahagia ketika bersama, tetapi juga tentang bagaimana ia tetap memilih bertahan dan memperbaiki keadaan ketika kehidupan sedang menguji.
Adapun rahmah merupakan kasih sayang yang membuat pasangan mampu melihat kelemahan satu sama lain dengan hati yang lapang. Dalam kehidupan rumah tangga, tidak ada manusia yang sempurna. Suami memiliki kekurangan, istri pun demikian. Karena itu, rumah tangga membutuhkan rahmah agar kekurangan tidak dijadikan senjata untuk saling menyakiti, tetapi menjadi ruang untuk saling melengkapi.
Abdul Khanan juga mengingatkan bahwa pernikahan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling benar. Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang belajar menjadi lebih baik bersama. Ada kalanya suami harus mengalah, ada kalanya istri harus memahami. Ada saatnya berbicara, tetapi ada pula saatnya memilih diam agar kata-kata tidak berubah menjadi luka.
Sebab rumah tangga tidak akan selalu dipenuhi hari-hari yang cerah. Akan ada hujan yang datang tanpa diundang, ada kesalahpahaman yang menguji kesabaran, dan ada masa ketika cinta harus dibuktikan bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kesetiaan untuk tetap tinggal dan memperbaiki keadaan.
Dalam bimbingan tersebut, kedua calon pengantin juga diarahkan untuk membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar, tetapi cara menyelesaikannya menentukan apakah perbedaan itu akan menjadi jembatan kedewasaan atau justru menjadi tembok pemisah.
Nazri Yunus dan Mayzatul diajak memahami bahwa pasangan hidup bukanlah seseorang yang selalu harus memiliki pendapat yang sama. Pasangan adalah seseorang yang bersedia mendengarkan ketika yang lain berbicara, memahami ketika yang lain lelah, dan hadir ketika kehidupan sedang tidak ramah.
Bimwin tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa pernikahan memiliki dimensi ibadah. Akad yang diucapkan bukan hanya janji kepada pasangan dan keluarga, tetapi juga amanah di hadapan Allah SWT. Karena itu, membangun keluarga membutuhkan ketakwaan, saling menghormati, dan kesadaran bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak hanya diukur dari kemewahan, tetapi dari ketenteraman yang tumbuh di dalam hati.
Bagi Abdul Khanan, memberikan Bimbingan Perkawinan merupakan bagian dari ikhtiar Penyuluh Agama Islam dalam membantu calon pengantin mempersiapkan kehidupan keluarga secara lebih matang. Pembekalan sebelum menikah diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa rumah tangga yang kokoh tidak dibangun dalam satu malam, melainkan dirawat setiap hari melalui komunikasi, pengorbanan, kesetiaan, dan doa.
Sebab setelah akad selesai dan para tamu pulang, kehidupan akan kembali menjadi milik mereka berdua. Tidak selalu ada orang tua yang menjadi penengah. Tidak selalu ada sahabat yang mengetahui masalah. Pada saat itulah suami dan istri harus belajar menjadi tempat pulang satu sama lain.
Kelak, ketika rambut mulai memutih dan langkah tidak lagi sekuat hari pertama, semoga Nazri Yunus dan Mayzatul masih saling menggenggam tangan. Bukan karena hidup mereka selalu mudah, tetapi karena sejak awal mereka telah belajar bahwa cinta sejati bukan sekadar menemukan seseorang untuk dicintai, melainkan menemukan seseorang yang ingin terus diperjuangkan hingga akhir usia.
Pernikahan yang indah bukanlah pernikahan tanpa masalah. Pernikahan yang indah adalah ketika dua orang yang telah berjanji di hadapan Allah tidak mudah menjadikan masalah sebagai alasan untuk saling meninggalkan. Mereka memilih duduk bersama ketika ada persoalan, meminta maaf ketika salah, memaafkan ketika terluka, dan kembali mengingat Allah ketika hati mulai kehilangan arah.
Semoga Bimbingan Perkawinan yang diberikan Abdul Khanan menjadi bekal berharga bagi Nazri Yunus dan Mayzatul dalam memasuki gerbang kehidupan rumah tangga. Semoga Allah SWT mempertemukan keduanya dalam pernikahan yang penuh ketenteraman, cinta, dan kasih sayang; dianugerahi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah.
Sebab pada akhirnya, rumah yang paling indah bukanlah rumah yang paling megah. Rumah yang paling indah adalah tempat dua hati dapat pulang tanpa rasa takut, tempat kesalahan dimaafkan, tempat lelah dipeluk dengan kasih sayang, tempat doa-doa dipanjatkan bersama, dan tempat dua manusia belajar mencintai Allah melalui cara mereka mencintai satu sama lain.
