HUT RI #81

Ketika Ditampakkan Tempatnya di Surga Saat Sakaratul Maut

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
10 Mar 2026
21x dibaca
SHARE

Banyumas — Fajar Ramadhan hari ke-20 menyingsing dengan cahaya yang lembut di ufuk timur. Udara pagi yang sejuk menyelimuti lingkungan Mushola Nurul Huda, sementara lantunan dzikir dan doa dari para jamaah yang baru saja menunaikan shalat Subuh menambah keheningan yang penuh keteduhan. Dalam suasana yang khusyuk itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam dari KUA Jatilawang, menyampaikan kultum Subuh yang sarat dengan pesan spiritual mendalam tentang keutamaan melaksanakan Shalat Tasbih. Selasa (10/03)

Di hadapan jamaah yang duduk bersila dengan wajah penuh harap, Muhammad Taubah membuka tausiyahnya dengan mengajak seluruh hadirin untuk merenungi perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan bermuara pada satu kepastian: kembali kepada Allah SWT.

Dengan tutur kata yang lembut namun menggetarkan hati, ia menjelaskan bahwa di antara amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar adalah Shalat Tasbih. Amalan yang diwariskan melalui hadits Nabi Muhammad SAW ini menjadi sarana seorang hamba untuk memohon ampunan atas dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang mungkin belum disadarinya.

“Shalat Tasbih adalah shalat yang penuh dengan kalimat tasbih yang mengagungkan Allah. Di dalamnya terdapat pengakuan kerendahan diri manusia di hadapan kebesaran Sang Pencipta,” ungkapnya dengan suara yang pelan namun penuh penekanan makna.

Muhammad Taubah kemudian mengisahkan keutamaan luar biasa yang terkandung dalam ibadah tersebut. Ia menyampaikan bahwa salah satu kemuliaan bagi orang yang istiqamah melaksanakan Shalat Tasbih adalah ditampakkannya tempat tinggalnya di surga ketika ia berada dalam detik-detik sakaratul maut.

Penjelasan itu membuat suasana mushola seketika menjadi semakin hening. Para jamaah terlihat menundukkan kepala, sebagian memejamkan mata, seakan membayangkan perjalanan terakhir seorang manusia ketika ruhnya mulai meninggalkan jasad.

“Bayangkanlah,” tutur Muhammad Taubah dengan nada penuh haru, “ketika seorang hamba berada dalam keadaan paling genting dalam hidupnya—ketika dunia mulai menjauh dan akhirat mulai mendekat—Allah memperlihatkan kepadanya tempat tinggal yang telah disiapkan di surga. Betapa tenangnya hati orang yang menyaksikan janji itu.”

Ia menegaskan bahwa gambaran tersebut bukan sekadar janji kosong, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang senantiasa berusaha mendekatkan diri melalui ibadah.

Kultum Subuh itu pun berubah menjadi ruang perenungan yang mendalam. Di tengah sunyi pagi Ramadhan, jamaah seolah diajak menatap cermin kehidupan: betapa singkatnya usia manusia, dan betapa berharganya setiap amal yang mampu menjadi bekal menuju kehidupan abadi.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk menghidupkan amalan-amalan sunnah seperti Shalat Tasbih.

“Janganlah kita menunggu tua untuk beramal. Jangan menunggu sakit untuk bertaubat. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan menjemput,” pesannya dengan nada penuh keprihatinan.

Beberapa jamaah tampak menyeka air mata yang tak tertahan. Kata-kata yang disampaikan bukan sekadar nasihat, melainkan pengingat yang menembus relung hati terdalam.

Di penghujung kultumnya, Muhammad Taubah mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan setiap detik Ramadhan sebagai ladang amal dan kesempatan memperbaiki diri. Ia berharap agar setiap orang yang hadir tidak hanya pulang membawa pengetahuan, tetapi juga membawa tekad untuk lebih mendekat kepada Allah SWT.

Ketika kultum berakhir, sinar matahari pagi mulai menembus jendela Mushola Nurul Huda. Cahaya itu seakan menjadi simbol harapan baru bagi setiap hati yang ingin kembali kepada jalan kebaikan.

Di pagi Ramadhan yang penuh berkah itu, pesan tentang Shalat Tasbih tidak hanya terdengar di telinga, tetapi juga terpatri dalam hati para jamaah—sebagai pengingat bahwa di balik setiap ibadah yang tulus, Allah telah menyiapkan tempat yang indah bagi hamba-hamba-Nya di surga.