HUT RI #81

Ketika Istri Bercerita, Berikan Perhatian dan Ketika Suami Sedang Berjuang Jangan Biarkan Usahanya Berlalu Tanpa Penghargaan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
15 Okt 2026
6x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 15-10-2026 14:41
SHARE

Jatilawang – Rumah tangga yang bahagia bukan semata-mata tentang dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama, melainkan tentang dua hati yang tetap saling mendengar, menghargai, dan menguatkan. Sebab, ada kesepian yang paling menyakitkan: ketika seseorang tidak hidup sendirian, tetapi merasa tak lagi memiliki tempat untuk bercerita. Pesan itulah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin, Adis Syamsul dan Suwarni. Dalam bimbingan tersebut, keduanya diajak memahami pentingnya komunikasi, perhatian, dan apresiasi dalam membangun keluarga yang harmonis. Kamis (15/10)

Muhammad Taubah mengingatkan bahwa pasangan yang jarang diajak berbicara, tidak pernah mendapat penghargaan atas usaha-usahanya, atau selalu diabaikan ketika membutuhkan dukungan, perlahan dapat merasa kesepian. Padahal, mereka mungkin setiap hari duduk berdekatan, makan dari meja yang sama, dan tidur di kamar yang sama.

Ada suami yang pulang membawa lelah, tetapi tak menemukan telinga untuk mendengar ceritanya. Ada istri yang sepanjang hari berjuang mengurus rumah dan keluarga, tetapi kebaikannya dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ada pula pasangan yang berkali-kali ingin menyampaikan isi hati, tetapi memilih diam karena merasa ucapannya tidak lagi penting.

Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah jarak emosional dapat tumbuh. Bukan selalu karena pertengkaran besar atau pengkhianatan yang mengguncang, melainkan karena perhatian yang perlahan menghilang, percakapan yang semakin jarang, dan ucapan terima kasih yang tak lagi terdengar.

Rumah yang dahulu hangat oleh cerita dan tawa akhirnya terasa asing. Dua orang masih saling menyapa, tetapi tak lagi benar-benar saling memahami. Mereka mengetahui kebiasaan satu sama lain, tetapi mulai kehilangan kepekaan terhadap perasaan yang tersembunyi di balik kebiasaan itu.

Dalam Bimwin tersebut, Adis Syamsul dan Suwarni diajak membiasakan diri untuk berbicara dari hati ke hati. Meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan tanpa sibuk dengan telepon genggam, menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, serta memberi apresiasi atas hal-hal sederhana dapat menjadi langkah penting menjaga kedekatan emosional.

Ucapan seperti “Terima kasih sudah berjuang hari ini,” “Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian,” atau “Ceritakan kepadaku, aku siap mendengarkan,” mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi hati yang sedang lelah, kalimat-kalimat itu dapat menjadi tempat beristirahat yang paling menenangkan.

Pasangan juga perlu belajar membedakan antara mendengar dan sekadar menunggu giliran berbicara. Mendengarkan berarti berusaha memahami, bukan buru-buru menyalahkan. Menghargai berarti mengakui bahwa pasangan memiliki perasaan, pemikiran, dan kebutuhan yang layak diperhatikan, meskipun tidak selalu sama dengan keinginan kita.

Ketenteraman dalam rumah tangga tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia perlu dibangun melalui kesediaan untuk saling memahami, kesabaran menghadapi perbedaan, dan kemauan memperbaiki diri. Kasih sayang bukan hanya hadir dalam hadiah atau perayaan istimewa, tetapi juga dalam kesediaan mendengarkan keluh kesah pasangan setelah hari yang panjang.

Bagi Adis Syamsul dan Suwarni, Bimwin ini menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan sekadar janji untuk hidup bersama, melainkan komitmen untuk tetap hadir dalam kehidupan batin satu sama lain. Ketika pasangan sedang bahagia, ikutlah bersyukur. Ketika ia sedang rapuh, jangan buru-buru menghakimi. Ketika ia bercerita, berikan perhatian. Dan ketika ia berjuang, jangan biarkan usahanya berlalu tanpa penghargaan.