HUT RI #81

Menata Nafsu, Menajamkan Ilmu

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
15 Okt 2026
7x dibaca
Diubah oleh yudi pada 15-10-2026 15:25
SHARE

Banyumas - Menjaga kualitas keilmuan tidak hanya dilakukan dengan memperbanyak membaca dan belajar, tetapi juga dengan memperhatikan adab serta pola hidup seorang pelajar. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam kajian rutin kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, Kamis (15/10/2026).

Kajian yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis tersebut membahas tema “Adab Pelajar pada Dirinya Sendiri yang Ke-8”. Pada pembahasan kali ini ditekankan pentingnya seorang pelajar untuk mempersedikit makan, karena terlalu banyak makan dapat menjadi salah satu sebab tumpulnya daya pikir dan lemahnya pancaindra.

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan bahwa seorang pelajar hendaknya berusaha menjauhkan diri dari berbagai hal yang secara khusus disebut sebagai penyebab lupa. Di antaranya adalah memakan makanan yang sebelumnya telah dimakan tikus, membaca tulisan di nisan kuburan, masuk di antara dua ekor unta yang sedang ditarik, serta menjatuhkan kutu dalam keadaan hidup.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari pendidikan adab yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan sikap dan kehati-hatian seorang pencari ilmu. Seorang pelajar dituntut untuk menjaga dirinya, termasuk dalam hal makanan, kebiasaan, dan berbagai perilaku yang dapat mengganggu kejernihan pikiran serta kebermanfaatan ilmu.

Kajian kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menjadi salah satu sarana bagi Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang untuk terus memperdalam bekal keilmuan dan adab. Bekal tersebut penting karena tugas Penyuluh Agama Islam tidak berhenti pada kegiatan belajar di lingkungan internal, tetapi juga diterapkan dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di tengah masyarakat.

Melalui kajian rutin ini, para Penyuluh diharapkan semakin memahami pentingnya hubungan antara ilmu dan adab. Ilmu yang dipelajari diharapkan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih hati-hati, disiplin, dan mampu memberikan keteladanan ketika menjalankan tugas pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Dengan demikian, kajian *Adabul ‘Alim wal Muta’allim* menjadi bagian dari upaya mempersiapkan Penyuluh Agama Islam agar memiliki bekal keilmuan dan adab yang memadai dalam menjalankan peran bimbingan serta penyuluhan di masyarakat. (dy/tum)