Ketika Kegamangan Perlahan Berubah Menjadi Kelegaan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di sebuah pagi yang tenang di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, langkah seorang warga terdengar pelan memasuki ruang pelayanan. Wajahnya menyiratkan harap sekaligus kebingungan—tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk menapaki gerbang penting dalam hidup yaitu pernikahan. Senin (27/04)

Di balik meja pelayanan, Muji Riyanti, staf KUA Jatilawang, menyambut dengan senyum yang hangat dan menenangkan. Tanpa sekat, tanpa jarak, ia mempersilakan warga tersebut duduk, lalu mendengarkan setiap pertanyaan dengan penuh perhatian. Bagi Muji Riyanti, setiap konsultasi bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang untuk membantu seseorang memahami langkah awal menuju ikatan suci.

Dengan suara lembut dan penjelasan yang runtut, ia mulai menguraikan satu per satu berkas yang harus dipenuhi untuk mendaftar nikah. Dari surat pengantar dari desa, fotokopi identitas diri, hingga dokumen pendukung lainnya—semuanya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa meninggalkan ketelitian yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

“Semua ini agar prosesnya berjalan lancar, dan hari bahagia nanti tidak terganggu hal-hal yang bisa dipersiapkan sejak awal,” tuturnya dengan penuh kesabaran.

Di ruang itu, suasana yang semula dipenuhi kegamangan perlahan berubah menjadi kelegaan. Warga yang datang tampak mengangguk-angguk, sesekali mencatat, seolah menemukan arah dari kebingungan yang sebelumnya menyelimuti. Ada rasa tenang yang tumbuh, bahwa perjalanan menuju pernikahan tidak harus dilalui sendirian.

Muji Riyanti tidak hanya menjelaskan, tetapi juga memastikan bahwa setiap informasi benar-benar dipahami. Ia memberi ruang untuk bertanya, mengulang penjelasan jika diperlukan, bahkan menyisipkan nasihat sederhana tentang pentingnya kesiapan, bukan hanya secara administrasi, tetapi juga secara hati.

Sebab baginya, berkas-berkas itu hanyalah awal. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan dua insan dalam membangun kehidupan bersama—tentang saling mengerti, saling menerima, dan saling menguatkan di tengah perjalanan yang tak selalu mudah.

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Konsultasi yang singkat itu meninggalkan kesan mendalam—bahwa di balik pelayanan yang sederhana, ada ketulusan yang bekerja dalam diam. Ada kepedulian yang tak sekadar menyelesaikan urusan, tetapi juga menguatkan langkah seseorang menuju masa depan.

Di KUA Jatilawang, hari itu, bukan hanya informasi yang diberikan. Harapan dirapikan, keraguan diluruhkan, dan keyakinan ditumbuhkan. Dan di balik semua itu, sosok Muji Riyanti hadir sebagai pengingat bahwa pelayanan terbaik adalah yang menyentuh hati—mengubah kebingungan menjadi cahaya, dan langkah ragu menjadi mantap menuju janji suci yang akan segera diikrarkan.