Lingkungan Bersih Adalah Cerminan Hati yang Bersih
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di sebuah sore yang teduh di Desa Adisara, suara riang anak-anak berpadu dengan semilir angin yang menyapu halaman TPQ Miftahul Huda. Di tempat sederhana itu, pelajaran kehidupan kembali ditanamkan—bukan hanya tentang huruf dan bacaan, tetapi tentang makna menjaga ciptaan Tuhan dengan sepenuh kesadaran. Senin (17/04)
Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, berdiri di hadapan para santri dengan wajah yang teduh dan senyum yang menenangkan. Kali ini, materi yang ia sampaikan bukan tentang tajwid atau hafalan, melainkan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan—sebuah pelajaran sederhana yang kerap terlupakan, namun memiliki dampak besar bagi kehidupan.
Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, ia mengajak anak-anak itu memahami bahwa kebersihan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari iman. Bahwa setiap sampah yang dibuang sembarangan bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengurangi rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
“Lingkungan yang bersih adalah cerminan hati yang bersih,” ucap Dwi Astuti lembut, membuat para santri terdiam sejenak, merenungi makna di balik kalimat sederhana itu.
Ia lalu mengajak mereka melihat sekeliling—halaman TPQ, jalan kecil di depan, hingga sudut-sudut yang sering luput dari perhatian. Dengan penuh kesabaran, ia mencontohkan bagaimana menjaga kebersihan dimulai dari hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, merapikan alas belajar, hingga menjaga kerapian diri.
Tak sekadar menyampaikan teori, Dwi Astuti mengajak para santri untuk langsung mempraktikkannya. Dengan tangan-tangan kecil yang penuh semangat, mereka mulai memungut sampah yang berserakan, menyapu halaman, dan menata kembali ruang belajar. Tawa dan canda mengiringi setiap gerakan, namun di balik itu, sebuah kesadaran sedang tumbuh perlahan.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin tampak biasa. Namun sesungguhnya, di situlah benih kepedulian sedang ditanam. Di tangan anak-anak itulah masa depan lingkungan dibentuk—dari kebiasaan kecil yang diajarkan dengan penuh cinta.
Seiring matahari yang mulai condong ke barat, kegiatan pun berakhir. Halaman TPQ tampak lebih bersih, namun yang lebih penting, hati para santri terasa lebih terang. Mereka pulang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga pesan yang akan mereka ingat dalam keseharian.
Di Desa Adisara, di tengah kesederhanaan yang jauh dari gemerlap kota, seorang penyuluh agama menanamkan nilai yang tak lekang oleh waktu. Dwi Astuti membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi tentang apa yang diteladankan. Di TPQ Miftahul Huda, kebersihan bukan sekadar diajarkan—ia dihidupkan, dirasakan, dan ditanamkan dalam hati-hati kecil yang kelak akan menjaga dunia dengan cara mereka sendiri.
