Ketika Orang Tua Menua, Masihkah Kita Punya Waktu? Pertanyaan Kepada Jamaah MT Sabilul Muttaqin
Jatilawang – Waktu terus berjalan, usia orang tua perlahan bertambah, sementara kesibukan sering kali membuat anak lupa bahwa ada hati yang diam-diam menunggu kehadirannya. Pesan menyentuh inilah yang diangkat Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Majelis Taklim Sabilul Muttaqin dengan materi “Ketika Orang Tua Menua, Masihkah Kita Punya Waktu?”. Jumat (23/10)
Melalui materi tersebut, Muhammad Taubah mengajak jemaah merenungkan kembali arti berbakti kepada orang tua. Menurutnya, kasih sayang orang tua tidak pernah mengenal jam pulang. Sejak anak masih dalam buaian hingga tumbuh dewasa, mereka mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan mengorbankan kebahagiaan sendiri demi masa depan buah hatinya.
Namun, ketika rambut mereka mulai memutih, langkah kian melemah, dan pendengaran tak lagi setajam dahulu, anak-anak justru sering tenggelam dalam urusan dunia. Telepon genggam terasa lebih dekat daripada percakapan bersama ibu, pekerjaan lebih mendesak daripada menemani ayah, dan janji untuk pulang kerap tertunda oleh alasan yang seolah tak pernah habis.
Padahal, orang tua tidak selalu meminta harta atau kemewahan. Terkadang, mereka hanya ingin mendengar suara anaknya, menikmati obrolan sederhana, atau merasakan genggaman tangan yang dahulu tak pernah mereka lepaskan ketika anaknya belajar berjalan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 23 agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tua dan tidak mengucapkan perkataan yang menyakiti mereka. Pesan ini mengingatkan bahwa bakti bukan sekadar kewajiban, melainkan ungkapan syukur atas cinta yang telah lebih dahulu hadir sebelum kita mengenal dunia.
Melalui penyuluhan ini, Muhammad Taubah mengajak jemaah memanfaatkan waktu selagi kesempatan masih terbuka. Mengunjungi orang tua, mendengarkan cerita mereka, membantu kebutuhannya, serta mendoakan mereka adalah bentuk kasih sayang yang sederhana, tetapi bermakna besar.
Sebab, suatu hari nanti, mungkin kita akan memiliki cukup waktu untuk pulang, tetapi tak lagi menemukan pintu yang terbuka oleh sambutan ibu atau suara ayah yang memanggil nama kita. Sebelum penyesalan datang tanpa bisa diulang, pulanglah, peluklah, dan bahagiakanlah mereka. Selagi orang tua masih ada, jangan biarkan cinta hanya tinggal dalam kenangan dan bakti hanya menjadi doa yang terlambat.
