HUT RI #81

Keutamaan Berbuka dan Sahur di Bulan Puasa

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
10 Feb 2026
7x dibaca
SHARE

Banyumas — Di ruangan mengaji, waktu seakan melambat. Bukan karena jarum jam berhenti, melainkan karena ada makna yang sedang ditanam perlahan—ke dalam hati-hati kecil yang kelak akan tumbuh menjadi iman yang kokoh.. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, berdiri tenang di hadapan para santri. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, ia mengajarkan sesuatu yang sangat menarik yaitu : keutamaan berbuka puasa dan sahur. Selasa (10/2)

“Berbuka bukan hanya soal makan,” tuturnya pelan. “Ia adalah perayaan syukur setelah menahan diri. Dan sahur bukan sekadar bangun pagi, melainkan ketaatan yang dicintai Allah.”

Kalimat-kalimat itu meluncur sederhana, tetapi menghunjam dalam. Mata-mata kecil para santri memandang penuh perhatian. Sebagian dari mereka mungkin belum memahami seluruh makna kata-kata itu, namun hati mereka menangkap kehangatannya—seperti doa ibu yang diselipkan dalam suapan sahur.

Dalam penjelasannya, Taubah menekankan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menyegerakan berbuka dan tidak meninggalkan sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan. Ia tidak hanya menyampaikan dalil, tetapi juga kisah—tentang kebersamaan keluarga saat azan Magrib berkumandang, tentang bangun dini hari meski mata berat, demi sebuah pahala yang tak terlihat namun abadi.

“Kelak, mungkin kalian lupa apa yang ustaz sampaikan hari ini,” katanya sambil tersenyum, “tapi semoga kalian ingat rasa bahagianya.”

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan keagamaan Ramadan yang rutin dilakukan oleh KUA Jatilawang, sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Kepala TPQ Nurul Huda menyampaikan apresiasi atas kehadiran Taubah yang dinilai mampu menyampaikan materi dengan pendekatan penuh kasih.

“Anak-anak tidak hanya mendengar, mereka merasakan,” ujarnya.

Di akhir sesi, doa pun dipanjatkan. Tangan-tangan kecil terangkat, suara mereka bergetar menyebut harapan yang polos: ingin puasanya diterima, ingin menjadi anak saleh, ingin

Dan kepada Santri TPQ Nurul Huda itu, Muhammad Taubah telah melakukan lebih dari sekadar mengajar. Ia menitipkan makna, pada hati-hati kecil yang kelak akan mengingat Ramadan bukan hanya sebagai bulan menahan lapar, tetapi sebagai bulan belajar mencintai Allah.