HUT RI #81

Kolaborasi Penyuluh Somagede dan Banyumas Sapa Warga Binaan Wanita Lapas

KUA Somagede
KUA Somagede
03 Mar 2026
26x dibaca
SHARE

Banyumas – Suasana di Blok Putri Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Banyumas mendadak khidmat. Senyum hangat dan sapaan religius mengalir dari para Penyuluh Agama Islam Kecamatan Somagede yang bersinergi dengan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Banyumas dalam kegiatan Bimbingan Penyuluhan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), baru-baru ini. Selasa (03/03)

Bukan sekadar menjalankan tugas rutin, kehadiran para penyuluh ini membawa misi besar: memberikan harapan dan bekal spiritual bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan. Menghadapi warga binaan memerlukan seni tersendiri. Seorang penyuluh dituntut memiliki kepekaan tinggi serta strategi khusus agar pesan moral yang disampaikan dapat diterima dengan hati terbuka.

Dalam menjalankan tugas di lingkungan yang terbatas seperti Rutan, para Penyuluh Agama Islam menerapkan lima pilar strategi penyuluhan yang krusial:

  1. Pendekatan Psikologis yang Mendalam Memahami bahwa setiap warga binaan memiliki beban batin yang berbeda. Penyuluh hadir bukan sebagai hakim, melainkan sebagai pendengar yang empati untuk memahami kondisi mental mereka sebelum masuk ke materi keagamaan.

  2. Etika Penyuluhan yang Menyejukkan Menjaga martabat warga binaan adalah prioritas. Etika komunikasi dijunjung tinggi dengan menghindari sikap menghakimi atau menggurui secara berlebihan, sehingga tercipta ruang diskusi yang inklusif.

  3. Materi yang Relevan dan Tepat Sasaran Materi difokuskan pada konsep pertobatan (taubatannasuha), kesabaran, dan harapan akan masa depan. Tujuannya agar warga binaan merasa masih memiliki kesempatan kedua untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

  4. Retorika yang "Membumi" Menggunakan bahasa dan gaya komunikasi yang sesuai dengan dunia warga binaan. Retorika yang digunakan cenderung santai namun berisi, menggunakan perumpamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

  5. Kepatuhan Ketat pada Regulasi Rutan Menghormati aturan main. Sinergi ini berjalan harmonis karena para penyuluh taat pada protokol keamanan dan tata tertib yang berlaku di Rutan Banyumas, memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi pengisi waktu luang, tetapi menjadi titik balik bagi para warga binaan putri untuk memperkuat iman. "Kami ingin mereka merasa tetap menjadi bagian dari masyarakat yang dicintai Tuhan. Di sini adalah tempat menempa diri, bukan akhir dari segalanya," ujar salah satu penyuluh di lokasi.

Dengan kolaborasi antar-kecamatan ini, diharapkan jangkauan pembinaan mental agama di wilayah Banyumas semakin solid dan mampu menyentuh lapisan masyarakat yang paling membutuhkan dukungan moral.

Sumber berita Yasaroh, S.Pd.

Editor (Nuryati)