KUA Jatilawang Bimbing Catin : Jaga Kesetiaan di Tengah Godaan Medsos
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Pernikahan adalah perjalanan dua hati yang berjanji untuk saling menjaga, bukan hanya ketika kehidupan berjalan mudah, tetapi juga ketika berbagai godaan datang mengetuk dari arah yang tidak disangka-sangka. Di era media sosial, menjaga kesetiaan tidak lagi hanya tentang menjaga langkah, tetapi juga tentang menjaga jari, pandangan, percakapan, dan hati. Jumat (02/10)
Pesan tersebut disampaikan Abdul Khanan, Penyuluh Agama KUA Kecamatan Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Riyanto dan Nadila Septiani. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat materi “Menjaga Kesetiaan di Tengah Godaan Medsos” sebagai bekal bagi calon pasangan suami istri dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga di era digital.
Abdul Khanan menjelaskan bahwa media sosial pada dasarnya merupakan sarana komunikasi yang dapat memberikan banyak manfaat. Namun, penggunaan yang tidak bijaksana dapat menjadi pintu munculnya persoalan dalam rumah tangga. Interaksi yang awalnya sederhana dapat berkembang menjadi kedekatan emosional apabila tidak disertai batasan dan komitmen yang jelas.
Karena itu, Riyanto dan Nadila diajak memahami bahwa kesetiaan bukan hanya berarti tidak melakukan perselingkuhan secara fisik. Kesetiaan juga berkaitan dengan kemampuan menjaga batas dalam komunikasi, menghormati perasaan pasangan, serta tidak membangun kedekatan tersembunyi dengan orang lain yang berpotensi mengganggu kepercayaan dalam rumah tangga.
Dalam bimbingannya, Abdul Khanan mengingatkan pentingnya keterbukaan dan komunikasi antara suami dan istri. Pasangan perlu membicarakan batas-batas yang dianggap nyaman dalam penggunaan media sosial, termasuk cara berkomunikasi dengan lawan jenis, menjaga privasi rumah tangga, serta menyikapi pesan atau interaksi yang dapat menimbulkan salah paham.
Menurutnya, tidak semua percakapan harus dibalas dan tidak semua perhatian dari orang lain harus diterima. Ada saat ketika seseorang harus berani berkata cukup, bukan karena membenci orang lain, melainkan karena sedang menjaga seseorang yang telah dipercayakan Allah SWT untuk menjadi pasangan hidupnya.
“Jangan biarkan percakapan yang tidak penting menjadi awal dari kehilangan seseorang yang sangat berarti. Kesetiaan terkadang dimulai dari keberanian untuk menjaga batas,” menjadi salah satu pesan reflektif dalam bimbingan tersebut.
Abdul Khanan juga mengajak Riyanto dan Nadila agar tidak menjadikan media sosial sebagai tempat mencari pembanding bagi kehidupan rumah tangga. Apa yang terlihat di layar sering kali hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Membandingkan kehidupan nyata dengan tampilan kehidupan orang lain di media sosial dapat melahirkan rasa tidak puas, prasangka, bahkan konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Rumah tangga membutuhkan ruang untuk tumbuh secara nyata. Kebahagiaan tidak harus dipamerkan agar menjadi berarti. Tidak semua masalah perlu diketahui dunia maya. Ada kesedihan yang cukup disampaikan kepada pasangan, ada persoalan yang lebih baik diselesaikan dalam ruang keluarga, dan ada kebahagiaan yang justru menjadi lebih indah ketika dinikmati tanpa harus diumumkan kepada siapa pun.
Dalam kesempatan tersebut, calon pengantin juga diajak membangun kebiasaan saling menghargai. Ketika muncul persoalan, pasangan hendaknya berbicara secara langsung, bukan mencari pelarian melalui percakapan dengan orang lain di dunia maya.
Sebab, sering kali jarak dalam rumah tangga bukan muncul karena pasangan tidak lagi berada di dekat kita, melainkan karena hati mulai menemukan tempat lain untuk bercerita.
Kesetiaan, menurut pesan yang disampaikan dalam Bimwin, membutuhkan kesadaran untuk terus memilih pasangan setiap hari. Memilih untuk jujur ketika berkesempatan menyembunyikan sesuatu. Memilih untuk menjaga ketika ada kesempatan untuk berpaling. Memilih pulang kepada pasangan ketika dunia menawarkan banyak persinggahan.
Riyanto dan Nadila juga didorong untuk membangun komunikasi yang sehat sejak awal pernikahan. Saling bercerita, mendengarkan keluhan, mengapresiasi kebaikan pasangan, dan menyediakan waktu berkualitas bersama dapat menjadi benteng yang membantu menjaga kedekatan emosional dalam rumah tangga.
Karena sesungguhnya, kesetiaan tidak hanya dijaga ketika ada yang melihat. Kesetiaan justru menemukan maknanya ketika seseorang memiliki kesempatan untuk menyimpang, tetapi memilih tetap menjaga janji.
Melalui Bimbingan Perkawinan tersebut, Abdul Khanan berharap Riyanto dan Nadila memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan rumah tangga di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Pernikahan diharapkan tidak hanya menjadi ikatan dua manusia dalam sebuah akad, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menjaga kehormatan, kepercayaan, dan perasaan.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah hati manusia. Ketika hati dipenuhi komitmen, teknologi dapat menjadi sarana mempererat hubungan. Namun ketika batas mulai diabaikan, sesuatu yang semula dianggap kecil dapat perlahan menjadi retakan dalam rumah tangga.
Sebab, kelak ketika usia telah menua dan rambut mulai memutih, yang paling indah bukanlah berapa banyak orang yang pernah memberi perhatian kepada kita, melainkan masih adanya seseorang yang sejak awal berjanji untuk tinggal, dan kita pun memilih untuk tetap tinggal bersamanya.
Itulah kesetiaan: bukan karena tidak pernah menemukan godaan, tetapi karena tahu siapa yang harus dijaga, janji mana yang harus dihormati, dan rumah mana yang harus selalu menjadi tempat untuk pulang.
