KUA Jatilawang Didik Catin Agar Jadi Orang Tua yang Dirindukan Anak
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Setiap anak mungkin akan lupa pada mainan yang pernah dibelikan orang tuanya. Mereka juga mungkin lupa pada pakaian yang pernah dikenakan atau makanan yang pernah tersaji di meja makan. Namun ada satu hal yang biasanya menetap jauh lebih lama di dalam ingatan seorang anak: bagaimana ia diperlakukan oleh orang tuanya. Jumat (02/10)
Pesan penuh makna tersebut disampaikan Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Agus Riyadi dan Rina Endang Astuti dengan materi “Menjadi Orang Tua yang Dirindukan Anak.”
Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Asyhadi mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa menjadi orang tua bukan sekadar tentang menghadirkan anak ke dunia, tetapi tentang menghadirkan diri dalam dunia anak.
Anak membutuhkan makanan untuk tubuhnya, tetapi juga membutuhkan perhatian untuk hatinya. Anak membutuhkan rumah untuk berteduh, tetapi lebih dari itu, mereka membutuhkan orang tua yang membuatnya merasa aman untuk pulang.
Menurut Asyhadi, menjadi orang tua yang dirindukan bukan berarti harus menjadi orang tua yang sempurna. Tidak ada manusia yang selalu benar, selalu sabar, dan tidak pernah lelah. Yang lebih penting adalah kesediaan orang tua untuk terus belajar memahami anak, mendengarkan ceritanya, menghargai perasaannya, dan hadir ketika anak membutuhkan tempat untuk bersandar.
Sebab ada anak yang sebenarnya tidak membutuhkan hadiah mahal. Ia hanya ingin ayahnya meletakkan telepon genggam dan mendengarkan ceritanya. Ada anak yang tidak meminta perjalanan jauh. Ia hanya ingin ibunya duduk di sampingnya ketika malam terasa menakutkan.
Kehadiran sering kali menjadi hadiah paling mahal yang dapat diberikan orang tua kepada anak.
Dalam kehidupan yang semakin sibuk, orang tua terkadang begitu fokus memenuhi kebutuhan anak sampai lupa memenuhi kebutuhan emosionalnya. Rumah dipenuhi makanan, pakaian, fasilitas pendidikan, dan berbagai kebutuhan lainnya, tetapi anak belum tentu merasa benar-benar didengar.
Karena itu, Asyhadi mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang hangat dalam keluarga. Orang tua perlu menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak, bukan hanya ketika anak melakukan kesalahan, tetapi juga ketika anak berhasil, sedih, takut, bingung, atau sekadar ingin bercerita tentang hal-hal kecil yang menurut orang dewasa tidak penting.
Bagi seorang anak, cerita kecil bisa menjadi dunia yang besar.
Ketika seorang anak pulang dan berkata, “Ayah, tadi di sekolah...”, mungkin yang dibutuhkan bukan jawaban panjang. Bisa jadi ia hanya membutuhkan seorang ayah yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukannya dan berkata, “Ceritakan kepada Ayah.”
Begitu pula seorang ibu. Ketika anak datang dengan wajah murung dan berkata, “Ibu, hari ini aku sedih,” pelukan terkadang jauh lebih menyembuhkan daripada seribu nasihat.
Asyhadi juga mengingatkan bahwa disiplin tetap penting dalam mendidik anak. Namun disiplin hendaknya berjalan bersama kasih sayang. Anak perlu memahami bahwa ketika orang tua memberikan batasan, itu bukan karena mereka membenci, tetapi karena mereka ingin menjaga.
Orang tua perlu menjadi teladan sebelum menjadi pemberi nasihat. Anak mungkin tidak selalu melakukan apa yang diperintahkan, tetapi mereka sering kali meniru apa yang dilihat setiap hari.
Jika ingin anak belajar berkata lembut, orang tua perlu membiasakan kelembutan. Jika ingin anak jujur, orang tua harus menunjukkan kejujuran. Jika ingin anak menghormati orang lain, orang tua perlu memperlihatkan penghormatan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pendidikan pertama seorang anak tidak selalu berlangsung di sekolah.
Pendidikan pertama berlangsung di rumah, melalui sikap, ucapan, dan perilaku orang tua yang setiap hari mereka saksikan.
Bimbingan tersebut menjadi bekal penting bagi Agus Riyadi dan Rina Endang Astuti sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Mereka diajak memahami bahwa menjadi suami dan istri pada akhirnya juga berarti mempersiapkan diri menjadi ayah dan ibu yang mampu menghadirkan rasa aman bagi anak-anaknya kelak.
Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang. Ada malam-malam ketika anak sakit dan orang tua tidak tidur. Ada masa ketika anak gagal dan orang tua ikut merasakan sedih. Ada saat ketika anak tumbuh dewasa dan mulai memiliki jalan hidupnya sendiri.
Pada saat itulah orang tua akan menyadari bahwa tugas terbesar bukanlah membuat anak selalu berada di dekatnya, melainkan membesarkan anak dengan cinta sehingga, sejauh apa pun langkahnya pergi, hatinya tetap tahu ke mana ia harus pulang.
Kelak, anak mungkin tidak mengingat berapa banyak uang yang pernah dikeluarkan orang tuanya.
Mungkin ia juga tidak mengingat berapa kali dibelikan pakaian baru.
Tetapi ia akan mengingat tangan yang menggenggamnya ketika takut, suara yang menenangkannya ketika gagal, pelukan ketika dunia terasa berat, dan rumah yang selalu membuka pintu tanpa bertanya mengapa ia pulang terlambat.
Di situlah makna menjadi orang tua yang dirindukan anak.
Bukan orang tua yang tidak pernah salah, melainkan orang tua yang ketika salah berani meminta maaf. Bukan orang tua yang selalu memiliki jawaban, tetapi orang tua yang bersedia mendengarkan. Bukan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang membuat anak merasa dicintai bahkan ketika dirinya belum menjadi seperti yang diharapkan.
Semoga melalui Bimbingan Perkawinan tersebut, Agus Riyadi dan Rina Endang Astuti tidak hanya mempersiapkan diri untuk membangun sebuah rumah, tetapi juga mempersiapkan hati untuk menjadi tempat bertumbuh bagi generasi yang kelak mereka hadirkan.
Sebab pada akhirnya, anak tidak mencari orang tua yang sempurna. Anak mencari rumah yang membuat hatinya merasa aman.
Dan ketika suatu hari anak telah dewasa, meninggalkan rumah untuk mengejar cita-cita, semoga masih ada satu hal yang membuatnya ingin kembali: kerinduan kepada dua orang yang dahulu selalu membuatnya merasa bahwa pulang adalah bentuk kebahagiaan yang paling sederhana.
