KUA Jatilawang Laksanakan Bimwin : Ilmu Manajemen Keuangan Rumah Tangga
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Pernikahan bukan sekadar tentang dua hati yang dipertemukan dalam sebuah akad. Ia adalah perjalanan panjang yang mempertemukan dua kebiasaan, dua harapan, dua keluarga, sekaligus dua cara memandang kehidupan. Di dalam perjalanan itu, cinta membutuhkan kesetiaan, kesetiaan membutuhkan tanggung jawab, dan tanggung jawab membutuhkan kemampuan mengelola kehidupan bersama secara bijaksana. Jumat (02/10)
Pesan tersebut disampaikan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Kukuh Wudadi dan Astrit Agustina. Salah satu materi yang diberikan dalam bimbingan tersebut adalah manajemen keuangan dalam rumah tangga.
Dwi Astuti menjelaskan bahwa kemampuan mengelola keuangan keluarga merupakan salah satu bekal penting bagi pasangan yang akan membangun kehidupan bersama. Menurutnya, persoalan keuangan tidak semestinya dianggap sebagai urusan salah satu pihak saja, tetapi perlu dibicarakan secara terbuka dan dikelola berdasarkan kesepakatan antara suami dan istri.
Dalam kehidupan rumah tangga, pendapatan yang besar belum tentu menghadirkan ketenteraman apabila tidak disertai perencanaan yang baik. Sebaliknya, penghasilan yang sederhana dapat menjadi berkah ketika dikelola dengan penuh tanggung jawab, keterbukaan, dan rasa syukur.
Karena itu, Kukuh dan Astrit diajak untuk membangun kebiasaan berdiskusi mengenai pemasukan, kebutuhan pokok, kewajiban keluarga, tabungan, kebutuhan darurat, serta berbagai rencana masa depan. Keterbukaan dalam persoalan keuangan diharapkan dapat mencegah munculnya kesalahpahaman yang berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Dwi Astuti juga mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam kehidupan modern, berbagai kemudahan dan gaya hidup dapat membuat seseorang mudah membelanjakan uang tanpa perencanaan. Oleh sebab itu, pasangan suami istri perlu memiliki prioritas agar setiap penghasilan dapat memberikan manfaat bagi keberlangsungan keluarga.
Lebih dari sekadar angka pemasukan dan pengeluaran, manajemen keuangan rumah tangga pada hakikatnya merupakan latihan kejujuran, kedewasaan, dan tanggung jawab. Ketika suami dan istri mampu duduk bersama membicarakan kondisi keuangan tanpa saling menyalahkan, di sanalah tumbuh rasa saling percaya.
“Rumah tangga tidak selalu harus memiliki banyak harta untuk menjadi bahagia. Yang terpenting adalah bagaimana suami dan istri mampu mengelola apa yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab, saling terbuka, dan tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk saling menyakiti,” menjadi pesan yang ditekankan dalam bimbingan tersebut.
Kukuh dan Astrit juga diarahkan untuk membangun tujuan keuangan keluarga secara bersama-sama. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan, hingga persiapan menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan. Dengan perencanaan yang matang, keluarga diharapkan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan kehidupan.
Dalam perspektif keluarga sakinah, kemampuan mengelola keuangan juga berkaitan erat dengan sikap saling menghargai. Suami menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran, sementara istri turut berperan dalam menjaga dan mengelola kehidupan keluarga. Keduanya bukan sedang berkompetisi tentang siapa yang paling banyak memberi, melainkan berjalan bersama untuk mencapai tujuan yang sama.
Sebab, sering kali yang membuat rumah tangga retak bukan semata-mata karena sedikitnya penghasilan, tetapi karena hilangnya komunikasi, keterbukaan, dan rasa saling memahami. Uang hanyalah alat; sementara kebahagiaan keluarga tumbuh dari cara pasangan memperlakukan satu sama lain.
Bimbingan Perkawinan yang diberikan Dwi Astuti menjadi ruang bagi Kukuh dan Astrit untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah akad. Mereka tidak hanya diajak membayangkan indahnya hari pernikahan, tetapi juga memahami realitas kehidupan yang akan dijalani bersama—termasuk ketika pendapatan sedang berlebih, ketika kebutuhan meningkat, maupun ketika keluarga harus belajar bertahan dalam keterbatasan.
Pada akhirnya, rumah tangga adalah perjalanan panjang yang tidak selalu melewati jalan yang rata. Ada hari ketika rezeki terasa luas, ada pula masa ketika pengeluaran datang silih berganti. Dalam keadaan apa pun, pasangan suami istri membutuhkan satu sama lain sebagai tempat berbagi, bukan tempat untuk saling menyalahkan.
Bagi Kukuh dan Astrit, bekal manajemen keuangan tersebut diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam membangun keluarga yang harmonis, mandiri, dan penuh keberkahan.
Sebab, rumah yang sederhana pun dapat terasa luas apabila di dalamnya ada syukur. Penghasilan yang terbatas pun dapat terasa cukup apabila dikelola dengan bijaksana. Dan kehidupan yang penuh tantangan akan terasa lebih ringan ketika suami dan istri memilih untuk menggenggam tangan yang sama, berjalan dalam arah yang sama, dan saling menguatkan hingga usia memisahkan.
Melalui Bimbingan Perkawinan, KUA Jatilawang terus berupaya memberikan bekal pengetahuan dan kesiapan kepada calon pengantin agar pernikahan tidak berhenti pada indahnya akad, tetapi tumbuh menjadi keluarga yang kokoh dalam menghadapi kehidupan, matang dalam mengambil keputusan, serta mampu menjaga cinta dalam setiap keadaan.
