KUA Terapkan Scan Barcode Literasi Pra Nikah bagi Catin
Oleh KUA Wangon
Banyumas – Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon melakukan terobosan modern dalam memberikan bimbingan bagi masyarakat dengan menerapkan sistem scan barcode literasi pra nikah. Inovasi ini dirancang untuk menggantikan metode pembekalan konvensional yang sering kali terbatas oleh ruang dan waktu. Melalui kode QR yang dipasang strategis di area pelayanan, para calon pengantin kini dapat mengakses berbagai materi edukasi mulai dari hukum munakahat, kesehatan reproduksi, hingga manajemen konflik keluarga secara mandiri melalui perangkat ponsel pintar mereka. Rabu (15/04/26)
Langkah digitalisasi ini merupakan respons KUA Wangon terhadap karakteristik generasi muda yang menginginkan akses informasi yang cepat, praktis, dan interaktif. Materi yang disematkan dalam tautan barcode tersebut dikemas secara menarik dan mudah dipahami. Dengan adanya literasi berbasis digital ini, calon pengantin diharapkan memiliki bekal pengetahuan yang lebih matang sebelum memasuki gerbang pernikahan, sehingga kualitas keluarga sakinah di wilayah Wangon dapat meningkat secara signifikan.
Penerapan teknologi ini juga terbukti mengefisiensi durasi layanan. Calon pengantin tidak lagi harus menunggu lama untuk mendapatkan penjelasan lisan dari petugas mengenai dasar-dasar pernikahan. Sambil menunggu proses verifikasi berkas, mereka dapat memanfaatkan waktu untuk membaca literasi penting yang sudah disediakan dalam genggaman. Sistem ini menciptakan budaya literasi baru yang lebih mandiri dan partisipatif bagi masyarakat.
Husain, Penghulu CPNS di KUA Wangon yang menjadi salah satu inisiator pemanfaatan teknologi ini, menyampaikan bahwa adaptasi digital adalah keharusan bagi instansi pelayan publik. Menurutnya, pemanfaatan barcode bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya serius untuk memastikan pesan-pesan bimbingan keluarga sampai ke tangan calon pengantin dengan cara yang lebih relevan dan tidak membosankan.
"Kami ingin meninggalkan cara-cara lama yang kaku. Melalui scan barcode ini, literasi pra nikah menjadi lebih fleksibel, bisa dibaca di mana saja dan kapan saja oleh pasangan calon pengantin. Sebagai aparatur muda, saya melihat potensi besar digitalisasi untuk menyentuh aspek edukasi yang selama ini mungkin kurang tersampaikan maksimal secara tatap muka karena keterbatasan waktu operasional kantor," jelas Husain.
Tuyan, seorang calon pengantin asal Desa Randegan yang akan mengikuti bimbingan pra nikah, merasa sangat terbantu dengan adanya inovasi ini. Ia menilai sistem ini sangat sesuai dengan kebutuhan anak muda yang sudah terbiasa dengan teknologi dalam aktivitas sehari-hari.
"Jujur ini sangat memudahkan. Saya tadi scan sambil nunggu antrean, ternyata isinya lengkap sekali, dari soal cara mengatur keuangan rumah tangga sampai tips komunikasi sama mertua. Caranya simpel, tidak perlu tumpukan brosur kertas lagi. Bagi saya yang dari Randegan, akses informasi seperti ini sangat bagus dan membuat urusan di KUA Wangon semakin menyenangkan," ungkap Tuyan dengan antusias. (jhr)
