HUT RI #81

Kultum Subuh Bulan Ramadhan di Mushola Nurul Huda

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
25 Feb 2026
92x dibaca
SHARE

Banyumas — Subuh Ramadhan hari ketujuh itu datang dengan udara yang masih menggigil, namun hati para jamaah di Mushola Nurul Huda justru terasa hangat. Seusai shalat Subuh berjamaah, langkah-langkah tidak segera beranjak. Semua memilih diam, duduk bersila, menanti untaian hikmah yang akan disampaikan oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang. Rabu (25/02)

Dalam kultum singkat namun sarat makna itu, Ramadhan seakan diturunkan kembali ke bumi—bukan sekadar sebagai bulan ibadah, melainkan sebagai ruang perjumpaan antara hamba dan Tuhannya. Dengan suara tenang dan tutur yang meresap, Muhammad Taubah mengajak jamaah merenungi makna waktu Subuh: saat gelap dan terang saling bersalaman, saat manusia diuji antara kembali terlelap atau bangkit memenuhi panggilan Ilahi.

“Ramadhan,” ucapnya lirih, “bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menata hati yang sering kali lupa arah.” Kalimat itu sederhana, namun menghunjam. Beberapa mata tertunduk, sebagian lain berkaca-kaca. Di antara lantunan ayat dan nasihat, terasa ada ruang sunyi yang mengajak setiap jiwa berdialog dengan dirinya sendiri.

Kultum Subuh hari ketujuh ini menyinggung kejujuran dalam beribadah, ketulusan dalam berdoa, serta pentingnya memaafkan—bahkan sebelum diminta. Ramadhan, kata beliau, adalah kesempatan langka untuk pulang; pulang dari kesibukan dunia, pulang dari kerasnya ego, pulang menuju Allah dengan hati yang lebih ringan.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa Subuh di bulan suci bukan sekadar rutinitas dini hari, melainkan latihan kedisiplinan spiritual. Dari Subuh, seseorang belajar setia pada janji; dari Subuh, seseorang belajar bahwa cahaya selalu datang setelah gelap yang paling sunyi.

Suasana mushola kian khidmat. Tak ada gemuruh tepuk tangan, hanya helaan napas panjang dan bisik doa yang mengalir pelan. Kultum itu berakhir tanpa penutup yang berlebihan, seolah sengaja dibiarkan menggantung agar setiap jamaah membawanya pulang—ke rumah, ke pekerjaan, ke kehidupan masing-masing.

Kegiatan kultum Subuh Ramadhan ini menjadi bukti bahwa dakwah tak selalu harus panjang dan lantang. Di Mushola Nurul Huda, kata-kata yang jujur dan hati yang ikhlas telah cukup untuk mengetuk nurani. Dan pagi itu, di hari keenam Ramadhan, air mata jatuh bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa rindu: rindu menjadi hamba yang lebih baik sebelum Ramadhan benar-benar pergi.