Lomba Tari Kreasi Kembangkan Bakat dan Kreativitas Siswa
Oleh MAN 3 Banyumas
Banyumas—Lomba Tari Kreasi merupakan salah satu agenda classmeeting yang diselenggarakan OSIM MAN 3 Banyumas pada Kamis (8/6) di Aula Mantibas. Lomba dimulai sekitar pukul 08.30 dan berlangsung sekitar satu jam. Lomba diikuti semua perwakilan kelas X dan XI yang berjumlah 12 peserta.
Lomba Tari Kreasi dilaksanakan secara tim dengan jumlah personal 5 orang setiap tim. Anggota tim boleh semua perempuan, boleh semua laki-laki, dan boleh gabungan laki-laki dan perempuan. Semua kelas terdaftar mengikuti lomba tersebut dan semua personel yang terdaftar adalah perempuan. Panitia menetapkan bahwa tema tari bebas, sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta. Durasi penampilan tari juga tidak ditentukan sehingga setiap peserta bebas menuangkan kreativitasnya. Kostum atau busana tari disesuaikan dengan tarian yang ditampilkan.
Peserta tampil sesuai dengan nomor urut tampil yang telah diundi pada saat technical meeting. Peserta yang tampil pertama adalah tim dari kelas XI IPA 1 yang menampilkan Tari Kreasi Menjeng dari Banyuwangi. Peserta pertama ini terlihat sangat siap dengan busana lengkap, mulai dari keseragaman kebaya, kain, hiasan kepala, sampai make up. Saat tampil pun, Gerakan mereka terlihat sangat kompak. Pada pertengahan penampilan, mereka berlima ada pose dan berdiam cukup lama. Penonton pun bertepuk tangan meriah karena mengira penampilan mereka telah selesai. Ternyata kemudian musik berbunyi lagi dan mereka melanjutkan penampilan hingga tarian usai. Selanjutnya, tampil berturut-turut adalah peserta dari kelas X Agama, X IPA 1, X IPA 2, X IPA 3, XI IPA 2, XI IPS 1, XI Agama, X IPS 1, X IPS 2, XI IPA 3, dan XI IPS 2. Banyak peserta yang menampilkan tari dengan iringan musik Wonderful Indonesia namun kreativitas gerakan berbeda-beda. Nuansa berbeda ditampilkan kelas X IPA 1 dengan membawa bendera merah putih sebagai properti. Sayang, salah satu anggota tim kipasnya jatuh padahal kipas digunakan dalam gerakan dengan durasi yang cukup panjang. Hal itu tentu saja mengurangi penampilan mereka. Namun demikian, mereka tetap tampil penuh percaya diri. Hal unik ditampilkan peserta dari kelas XI IPS 1 yang mengusung Tari Kreasi Paijo. Mereka tampil dengan mengenakan kaca mata hitam dan mengawali penampilan dengan musik tiktok sehingga menarik perhatian penonton. Ada sedikit insiden saat berlangsungnya lomba. Pada saat peserta perwakilan kelas X IPA 3 tampil, tiba-tiba listrik padam sehingga semua penonton bersorak-sorai. Ditunggu agak lama ternyata listrik tak juga menyala sehingga panitia akhirnya menggunakan jenset. Oleh karena itu, penampilan peserta dari kelas tersebut juga diulang dari awal. Akhirnya lomba berlangsung lancar hingga peserta terakhir.
Bertindak sebagai juri adalah Siti Dwi Ratna Ningsih, S.Pd. yang biasa disapa Naning dan Jecky Rikza Kamal, S.Pd.I. Naning menyampaikan kekagumannya terhadap siswa, “Saya kagum dengan semangat anak-anak yang sudah memeriahkan lomba tari kreasi. Begitu juga antusiasme anak-anak yang menonton untuk memberikan support pada perwakilan kelasnya dan ternyata anak-anak memiliki daya kreasi yang bagus.” Lebih lanjut Naning menyatakan, “Mereka bisa tampil bagus dan percaya diri. Ada juga peserta yang benar-benar tampil secara totalitas, mulai gerakan hingga busana tarinya. Harapan saya, bila ada kegiatan serupa hendaknya semua pihak ikut mendukung dan memeriahkan acara, termasuk bapak ibu guru, terutama wali kelas, untuk men-support anak-anak. Tim hore dari tiap kelas juga hendaknya untuk lebih maksimal agar acaranya lebih meriah,” pungkasnya.
Sely, sebagai salah satu anggota tim yang tampil pertama, menyampaikan rasa senangnya bisa ikut lomba tari kreasi. “Senang karena dapat mengembangkan bakat dan kreativitas kami. Banyak tantangan saat berlatih. Kami berlatih tarian baru hanya dalam waktu sekitar seminggu sehingga kami harus berlatih serius. Benar-benar perjuangan karena saat berlatih gerakan yang sulit, kami tak cukup mengulanginya sekali dua kali. Saat mau lomba, kami juga harus berangkat awal karena harus make up dan memakai busana lengkap mulai kain, kebaya, hingga hiasan kepala. Alhamdulillah wali kelas kami sangat men-support kami.” Saat ditanya bagaimana rasanya tampil pertama, Sely menjawab, “Ya ada rasa grogi juga. Saya mengatasinya dengan fokus dan menikmati tarian sehingga grogi berangsur menghilang.” Syifa, kawan satu tim Sely, menyampaikan bahwa persiapan busana sekitar 3 hari karena harus mencari kebaya dan perlengkapan lain ke beberapa tempat persewaan busana. “Akhirnya kami bisa menyewanya di dua tempat, yaitu di Salon Bathari dan Sanggar TSK Sumpiuh.” Saat ditanya bagaimana rasanya saat tampil, Syifa menjawab, “Kami tampil percaya diri karena mulai gerakan tari, busana, dan make up sudah sangat dipersiapkan dan sesuai harapan kita untuk tampil maksimal. Wali kelas kami yang me-make up kami. Saya merasa lega, puas, dan senang sudah bisa tampil tapi masih ada keinginan untuk tampil lagi.” Selanjutnya Syifa juga menyampaikan harapan, “Semoga lomba classmeeting selanjutnya lebih kreatif, seru, dan mengasah kemampuan siswa. Lomba tari kreasi harus tetap dilanjutkan, bahkan bisa ditambahkan lomba seni lainnya agar mampu menanamkan dan mengasah jiwa seni semua siswa,” pungkasnya.
(Tim Media MAN 3 Banyumas)
