MAN 3 Banyumas Adakan Seminar Figur R.A. Kartini dalam Perspektif Islam

Oleh MAN 3 Banyumas
SHARE

 

Banyumas : MAN 3 Banyumas memperingati Hari Kartini dengan seminar pada Rabu (27/4) di Aula Mantibas. Seminar bertajuk “Figur R.A. Kartini dalam Perspektif Islam” menghadirkan narasumber Dr. Nasiwan, M.Si., Lektor Kepala di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Seminar dihadiri semua siswa, guru, dan pegawai Mantibas.

Drs. Suratno, M.Pd.I. , kepala MAN 3 Banyumas, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukurnya karena bisa menghadirkan narasumber yang dahulu merupakan temannya saat menuntut ilmu di UNY. Terkait dengan sejarah, Suratno menyampaikan, “Sejarah itu bukan apa yang kita baca pada buku catatan sejarah. Sejarah itu adalah bagaimana kita memberikan narasi pada fakta sejarah.” Jadi, sejarah itu bergantung pada siapa yang memberikan narasi pada suatu fakta sejarah. Suratno mencontohkan, “Pada masa dulu, di buku sejarah Indonesia, ada catatan tentang Pemberontakan Imam Bonjol, Pemberontakan Pangeran Diponegoro, Pemberontakan Pattimura, dan lain-lain. Tapi, seiring pergantian pemerintahan, catatan tersebut diubah menjadi Perjuangan Imam bonjol, Perjuangan Pangeran Diponegoro, Perjuangan Pattimura, dan lain-lain.” Begitu juga dengan sejarah R.A. Kartini. Banyak sisi lain Kartini yang tidak pernah dibahas di buku sejarah Indonesia. “Oleh karena itu, silakan nanti disimak pemaparan narasumber agar kita lebih paham tentang sisi spiritual Ibu Kartini,” pungkasnya.

Sementara itu, Koordinator Acara, Ahmad Ridlo, S.S., M.Pd.I. memberikan pengantar bahwa sisi lain Kartini yang tak pernah dipublikasikan di buku sejarah adalah bahwa dia merupakan seorang santri. Guru ngajinya juga merupakan guru ngaji K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Dr. Nasiwan, M.Si. dalam paparannya menyampaikan sisi lain R.A. Kartini yang tidak pernah dituliskan dalam buku sejarah Indonesia. Ternyata sejak usia sekitar 10 tahun, R.A. Kartini sudah menjadi santri. Guru ngajinya bernama Kyai Sholeh Bin Umar, kelahiran tahun 1820 dan wafat pada Desember 1903 di Semarang. Kartini mempelajari tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dan memohon pada gurunya untuk bisa menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar dia dan orang-orang lain yang ikut mengaji mampu memahami isi kandungan Al-Qur’an. Akhirnya, Kyai Sholeh pun menerjemahkannya dan saat Kartini menikah dengan R. Djojodiningrat, Kyai Sholeh pun memberikan Kitab Tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa tersebut kepada Kartini. Tafsir tersebut baru dua jiz dan merupakan tafsir pertama di wilayah Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

“Saya merasa senang mengikuti seminar ini karena menjadi paham bahwa Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi wanita, namun beliau juga seorang santri yang mempelajari isi kandungan Al-Qur’an. Jadi lebih memahami juga situasi negeri ini sejak zaman Kartini,” ungkap Eny Sugiyarti, salah seorang guru peserta seminar.

Para siswa juga terlihat antusias, tertarik dengan penjelasan narasumber yang mengungkapkan Kartini dari perspektif Islam. “Ternyata R.A. Kartini memang memiliki pandangan ke depan, terbukti beliau ingin memahami isi Al-Qur’an dengan minta gurunya untuk menerjemahkannya dalam bahasa Jawa. Luar biasa keinginannya untuk maju,” ungkap Okta, salah seorang siswa peserta seminar dari kelas XI-IPA 1.

(Tim Media MAN 3 Banyumas)