Memahami Tarawih Sebagai Perjumpaan Cinta Tuhan dan Hambanya
Banyumas — Senja Ramadhan itu belum sepenuhnya turun ketika suara anak-anak mengaji mengalun jernih dari TPQ Nurul Huda. Di ruang belajar yang sederhana, tikar digelar apa adanya, mushaf tersusun rapi, dan mata-mata kecil menatap penuh harap. Di sanalah Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, hadir mengajar—menanamkan pelajaran tentang pahala shalat tarawih kepada para santri. Rabu (25/02)
Dengan bahasa yang lembut dan cerita yang membumi, Muhammad Taubah tidak sekadar menyampaikan hukum dan hitungan pahala. Ia mengajak anak-anak memahami tarawih sebagai perjumpaan cinta: antara langkah kecil yang lelah menuju masjid, dan kasih sayang Allah yang luas tak bertepi. “Setiap rakaat,” ujarnya perlahan, “adalah jejak cahaya yang kalian tinggalkan di jalan pulang menuju surga.”
Anak-anak mendengarkan dalam diam yang jarang. Ada yang menggenggam sarungnya, ada yang memeluk mushaf kecilnya. Mereka belajar bahwa tarawih bukan lomba cepat pulang, melainkan latihan kesabaran; bukan sekadar berdiri dan duduk, melainkan upaya hati untuk taat dan rindu. Bahwa pahala bukan hanya angka, tetapi kebahagiaan yang tumbuh ketika ibadah dilakukan dengan ikhlas.
Dalam suasana hangat itu, Muhammad Taubah menyelipkan pesan tentang niat dan kebersamaan. Tentang orang tua yang menggandeng tangan anaknya ke masjid, tentang doa-doa yang naik diam-diam dari barisan paling belakang, dan tentang Ramadhan yang akan selalu mengingat mereka—bahwa masa kecil yang dibasahi ibadah adalah harta yang tak akan habis.
