Memupuk Generasi Qurani: Tradisi Sorogan di Mushola Kedung Santen
Banyumas – Suasana syahdu menyelimuti Mushola Kedung Santen setiap kali mentari terbenam. Ba’da Maghrib bukan sekadar waktu transisi menuju malam bagi anak-anak di Majelis Taklim (MT) An-Najah; ia adalah waktu bagi mereka untuk mendekatkan diri dengan Al-Qur'an melalui bimbingan rutin yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam KUA Sumpiuh, Laeli Najihah. Selasa (10/02)
Kegiatan mengaji ini memiliki kekhasan tersendiri yang menggabungkan kedisiplinan dan pendekatan personal. Berikut adalah rangkaian kegiatannya:
-
Pembukaan dengan Asmaul Husna
Sebelum lembaran kitab dibuka, seluruh santri melantunkan Asmaul Husna secara bersama-sama. Gema nama-nama baik Allah ini berfungsi untuk menenangkan hati sekaligus menanamkan akidah sejak dini dalam jiwa anak-anak.
-
Metode Sorogan yang Personal
Inti dari bimbingan ini adalah metode Sorogan. Satu per satu santri maju menghadap pembimbing untuk menyetorkan bacaannya. Metode ini memungkinkan Ibu Laeli Najihah untuk memantau secara presisi kualitas tajwid dan makharijul huruf setiap anak sesuai dengan tingkatan kemampuannya masing-masing.
-
Pembinaan Berkelanjutan
Kehadiran penyuluh agama dari KUA di tengah masyarakat melalui MT An-Najah menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam memberikan pengawalan mental dan spiritual bagi generasi muda di wilayah Sumpiuh.
Melalui rutinitas ini, diharapkan anak-anak di lingkungan Kedung Santen tidak hanya sekadar mampu membaca Al-Qur'an, tetapi juga memiliki kedekatan batin dengan rumah ibadah dan nilai-nilai luhur agama.
"Mengajar anak-anak mengaji adalah investasi langit. Dengan metode sorogan, kita memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang tepat sesuai kapasitasnya."
