Menata Hidup untuk Satu Janji Kokoh Suami Istri
Banyumas — Di balai nikah yang dipenuhi doa dan harap, air mata kerap jatuh bukan karena duka, melainkan oleh kesadaran akan beratnya amanah bernama pernikahan. Pada hari itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama pada KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada sepasang Calon Pengantin (Catin), Beni Anggriyanto dan Nur Khasanah—dua nama yang sedang menata hidup untuk satu janji yang kokoh: janji suami istri. Rabu (25/-2)
Bimwin bukan sekadar agenda administratif menuju akad. Ia adalah pelita yang dinyalakan sebelum malam panjang kehidupan dimulai. Dalam tutur yang teduh dan bernas, Muhammad Taubah mengajak kedua calon mempelai menengok jauh ke depan—ke hari-hari ketika cinta diuji oleh letih, ketika sabar diuji oleh perbedaan, dan ketika iman diminta berdiri paling depan memimpin langkah.
“Pernikahan,” tuturnya perlahan, “adalah perjanjian yang kokoh—bukan karena kata-kata indahnya, melainkan karena kesetiaan menjaga maknanya.” Kalimat itu mengalir seperti doa, menembus sekat usia, latar, dan pengalaman. Ruangan seketika hening; seolah setiap yang hadir diajak menimbang kembali arti janji yang pernah, sedang, atau akan diikrarkan.
Kepada Beni dan Nur Khasanah, disampaikan bahwa rumah tangga bukan panggung kemenangan satu pihak, melainkan perjalanan dua insan yang saling menguatkan. Suami dipanggil menjadi pelindung yang adil dan penyayang; istri dimuliakan sebagai peneduh yang bijak dan setia. Keduanya dipersatukan oleh komitmen untuk saling menunaikan hak dan kewajiban, dengan dialog sebagai jembatan dan doa sebagai sandaran.
Dengan pendekatan yang komunikatif dan sarat nilai, Bimwin ini mengulas fondasi sakinah, mawaddah, dan rahmah—bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kerja batin sehari-hari. Tentang mengelola emosi, mengatur ekonomi keluarga dengan kejujuran, menyelesaikan konflik tanpa merendahkan martabat, serta merawat cinta agar tetap hidup di tengah rutinitas.
Beni menunduk, matanya berkaca-kaca. Nur Khasanah menggenggam erat catatan kecilnya. Di hadapan mereka, pernikahan tak lagi sekadar hari bahagia, melainkan amanah panjang yang menuntut kesungguhan. Dan di balik itu semua, hadir keyakinan: bahwa janji yang kokoh akan bertahan bila dijaga bersama.
Kegiatan Bimwin ini menegaskan peran negara dan tokoh agama dalam menyiapkan generasi keluarga yang kuat—bukan hanya sah secara hukum, tetapi matang secara akhlak. Di Jatilawang, dari ruang yang sederhana, lahir harapan besar: agar setiap ijab kabul kelak bukan hanya terdengar merdu, melainkan berbuah ketenangan hingga usia menua.
Pada akhirnya, berita ini bukan sekadar catatan peristiwa. Ia adalah pengingat bagi siapa pun: bahwa pernikahan adalah ibadah yang memerlukan ilmu, kesadaran, dan kasih yang terus diperbarui. Dan di ambang janji itu, air mata pun jatuh—sebagai saksi betapa mulianya amanah yang akan dimulai.
