HUT RI #81

Menghadirkan Kenyamanan dalam Rumah Tangga

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
16 Mar 2026
39x dibaca
SHARE

Banyumas — Di Balai Nikah KUA Jatilawang, sebuah pertemuan yang sarat makna berlangsung dengan penuh keteduhan. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada sepasang calon pengantin, Imam Abror dan Nidaul Janah, yang tengah bersiap menapaki perjalanan suci menuju kehidupan rumah tangga. Senin (16/03)

Bimbingan ini menjadi bagian penting dalam membekali calon pasangan suami istri agar tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual dalam membangun keluarga.

Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah mengangkat materi bertajuk “Memperlakukan Pasangan dengan Nyaman”, sebuah tema yang sederhana namun memiliki makna mendalam dalam kehidupan pernikahan. Dengan bahasa yang lembut dan penuh kebijaksanaan, ia mengingatkan bahwa rumah tangga yang harmonis berawal dari sikap saling menghargai dan menciptakan rasa aman bagi pasangan.

“Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua nama dalam satu ikatan,” tuturnya dengan penuh ketenangan, “melainkan menyatukan dua hati agar saling menjadi tempat pulang yang menenangkan.”

Ia menjelaskan bahwa kenyamanan dalam rumah tangga lahir dari sikap saling memahami, komunikasi yang baik, serta kesediaan untuk mendengarkan dan menghargai perasaan pasangan. Hal-hal kecil seperti tutur kata yang lembut, perhatian yang tulus, serta kesabaran dalam menghadapi perbedaan seringkali menjadi kunci terciptanya kedamaian dalam keluarga.

Imam Abror dan Nidaul Janah tampak mengikuti setiap penjelasan dengan penuh perhatian. Di wajah keduanya tergambar harapan tentang kehidupan yang akan mereka bangun bersama—sebuah rumah tangga yang tidak hanya berdiri atas dasar cinta, tetapi juga dihiasi rasa saling menjaga dan menenteramkan.

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa perjalanan rumah tangga tidak selalu berjalan mulus. Akan ada saat-saat di mana kesalahpahaman dan ujian kehidupan datang menghampiri. Namun ketika pasangan mampu saling memperlakukan dengan penuh kenyamanan dan penghargaan, setiap masalah dapat diselesaikan dengan hati yang lapang.

“Rumah tangga yang baik bukanlah rumah tangga tanpa masalah,” ungkapnya, “melainkan rumah tangga di mana dua insan mampu menghadirkan ketenangan satu sama lain di tengah berbagai ujian kehidupan.”

Suasana bimbingan berlangsung hangat dan penuh perenungan. Setiap nasihat yang disampaikan seakan menjadi bekal batin bagi Imam Abror dan Nidaul Janah untuk melangkah menuju kehidupan baru yang penuh tanggung jawab.

Di penghujung pertemuan, harapan pun mengalir tulus: semoga Imam Abror dan Nidaul Janah kelak mampu membangun rumah tangga yang dipenuhi ketenangan, saling menghormati dalam setiap keadaan, serta menjadikan satu sama lain sebagai tempat berlabuh yang menentramkan.

Sebab dalam kehidupan pernikahan, kebahagiaan sejati seringkali lahir dari hal-hal sederhana—dari cara suami dan istri saling memperlakukan dengan penuh kenyamanan, kasih sayang, dan penghargaan sepanjang perjalanan hidup mereka bersama.