HUT RI #81

Meniti Malam Nishfu Syaban

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
02 Feb 2026
41x dibaca
SHARE

Banyumas — Malam Nishfu Sya’ban kerap dipandang sebagai salah satu simpul waktu yang sarat keberkahan, ketika doa-doa dipanjatkan dan harapan dilangitkan. Menyambut kemuliaan malam tersebut, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, memberikan pembinaan keagamaan kepada santri TPQ Nurul Huda mengenai fadhilah membaca Surah Yaasiin sebanyak tiga kali pada malam Nishfu Sya’ban. (Senin, 2/2)

Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan di lingkungan TPQ Nurul Huda dalam suasana khidmat dan penuh kekhusyukan. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, Muhammad Taubah menguraikan keutamaan membaca Surah Yaasiin sebagai bentuk ikhtiar spiritual umat Islam dalam memohon panjang umur dalam ketaatan, kelapangan rezeki, serta keteguhan iman hingga akhir hayat.

Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa pembacaan Surah Yaasiin sebanyak tiga kali pada malam Nishfu Sya’ban telah menjadi tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat, sebagai media doa dan munajat kepada Allah SWT. “Melalui Yaasiin, kita diajak mendekatkan hati kepada Al-Qur’an dan menata harapan dengan penuh tawakal,” tuturnya di hadapan para santri yang mengikuti pengajian dengan tertib dan penuh perhatian.

Para santri TPQ Nurul Huda tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Selain pemaparan materi, pembelajaran juga disertai dengan pembacaan Surah Yaasiin secara bersama-sama, sehingga nilai-nilai yang disampaikan tidak hanya berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi juga diwujudkan dalam praktik ibadah.

Pengurus TPQ Nurul Huda mengapresiasi peran aktif Penyuluh Agama KUA Jatilawang yang secara konsisten mendampingi dan membina santri dalam memahami tradisi dan nilai-nilai keislaman. Menurut mereka, kegiatan ini menjadi sarana efektif dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini, sekaligus membimbing santri agar memahami makna ibadah secara lebih mendalam.

Melalui pembinaan ini, diharapkan para santri tidak hanya mengenal malam Nishfu Sya’ban sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai ruang spiritual untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menumbuhkan harapan akan ampunan serta rahmat Allah SWT. (tum)