HUT RI #81

Menjaga Keberkahan di Tengah Bertambahnya Harta Jamaah MT Miftahul Iman

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
28 Okt 2026
12x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 28-10-2026 23:46
SHARE

Jatilawang — Harta yang bertambah belum tentu membuat hidup semakin berkah. Sebab, kekayaan sejati bukan semata-mata tentang banyaknya yang dimiliki, melainkan tentang ketenangan hati, kecukupan hidup, dan manfaat yang dapat dirasakan sesama. Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim (MT) Miftahul Iman dengan materi “Jangan Sampai Harta Bertambah, tetapi Keberkahan Hidup Justru Berkurang.” Rabu (28/10)

Dalam penyuluhan tersebut, jamaah diajak memahami bahwa mencari rezeki merupakan bagian dari ikhtiar kehidupan, tetapi menjaga kehalalan, kejujuran, dan kebermanfaatannya adalah tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Harta yang diperoleh dengan cara yang benar, disyukuri dengan tulus, serta dibelanjakan untuk kebaikan akan memiliki nilai lebih dari sekadar angka dalam perhitungan dunia.

Pesan ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji penambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur. Syukur tidak cukup diucapkan melalui lisan, tetapi perlu diwujudkan dengan menggunakan rezeki secara bertanggung jawab, membantu mereka yang membutuhkan, dan menjauhkan diri dari perilaku berlebihan.

Muhammad Taubah mengajak jamaah menjadikan harta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan justru membuat hati semakin jauh dari-Nya. Sebab, ketika kesibukan mengumpulkan kekayaan mengikis waktu untuk keluarga, kepedulian kepada sesama, dan ketekunan beribadah, seseorang perlu kembali menimbang arti kecukupan yang sesungguhnya.

Melalui Bimluh ini, jamaah diingatkan bahwa keberkahan tidak selalu hadir dalam bentuk kelimpahan. Ia dapat tumbuh dalam rezeki yang sederhana, tetapi mencukupi; dalam rumah yang bersahaja, tetapi dipenuhi kasih sayang; serta dalam kehidupan yang tidak berlebihan, tetapi menghadirkan ketenteraman.

Sebab, jangan sampai tangan semakin penuh menggenggam harta, sementara hati semakin kosong dari rasa syukur. Harta boleh bertambah, cita-cita boleh menjulang, tetapi keberkahan tetap harus menjadi tujuan. Pada akhirnya, bukan sekadar seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa baik rezeki itu mendekatkan manusia kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.