HUT RI #81

Menyemai Makna Puasa Produktif di Masjid Al Ikhwan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
04 Mar 2026
39x dibaca
SHARE

Banyumas — Malam ke-14 Ramadhan menjadi saksi bisu sebuah perjumpaan batin yang menggetarkan jiwa. Di bawah langit yang tenang dan semilir angin yang membawa aroma doa, Masjid Al Ikhwan Jatilawang dipenuhi jamaah dari berbagai usia. Mereka datang bukan sekadar untuk melaksanakan ibadah, melainkan untuk meneguk makna kehidupan yang disampaikan dengan ketulusan oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dalam kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) Ramadhan. Rabu (4/3)

Dengan suara yang lembut namun menghunjam relung hati, Muhammad Taubah menyampaikan materi bertajuk Puasa Ramadhan yang Produktif. Bukan sekadar ceramah, tetapi sebuah ajakan sunyi yang mengetuk kesadaran—bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang membangun jiwa yang hidup, waktu yang bermakna, dan amal yang berkelanjutan.

“Ramadhan bukan bulan untuk melemah, tetapi bulan untuk menguatkan,” tuturnya perlahan. Kalimat itu melayang di udara masjid, meresap ke dada para jamaah, seakan mengingatkan bahwa setiap detik di bulan suci adalah amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Ia mengajak jamaah merenungi bagaimana puasa dapat melahirkan produktivitas spiritual dan sosial: bekerja dengan jujur meski tubuh letih, mendidik anak dengan kasih meski hati diuji, serta berbagi kepada sesama meski tangan tak berlebihan. Dalam tiap kalimatnya, terselip empati pada mereka yang berjuang dalam diam—para buruh, petani, ibu rumah tangga, dan generasi muda yang mencari arah hidup.

Beberapa jamaah tampak menundukkan kepala. Mata yang berkaca-kaca menjadi saksi bahwa dakwah yang lahir dari keikhlasan akan menemukan jalannya sendiri menuju hati manusia. Masjid Al Ikhwan malam itu bukan hanya tempat ibadah, tetapi ruang penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang lelah oleh dunia.

Kegiatan Tarling Ramadhan ini merupakan bagian dari ikhtiar KUA Jatilawang untuk menghadirkan dakwah yang membumi, menyejukkan, dan relevan dengan denyut kehidupan masyarakat. Melalui langkah sederhana dari masjid ke masjid, pesan-pesan keimanan disampaikan bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan cinta dan kepedulian.

Saat malam kian larut dan jamaah beranjak pulang, satu hal tertinggal di dalam masjid: kesadaran baru bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk menjadi manusia yang lebih utuh. Dan di malam ke-14 itu, melalui lisan Muhammad Taubah, cahaya itu kembali dinyalakan—pelan, namun abadi.