HUT RI #81

Menyongsong Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
09 Mar 2026
22x dibaca
SHARE

Banyumas — Malam Ramadhan ke-19 turun dengan kesunyian yang menenangkan. Di bawah langit desa yang teduh, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, hadir mengisi pengajian Dalam rangkaian kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) Ramadhan di mushola Nurul Huda. Suasana khidmat terasa ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an mengawali tausiyah yang kemudian mengalir lembut menyentuh relung hati para jamaah. Senin (9/3)

Dalam ceramahnya, Muhammad Taubah mengangkat tema “Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan.” Ia mengajak seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa di bulan yang penuh rahmat ini, sebab sepuluh malam terakhir adalah puncak kemuliaan Ramadhan.

“Ramadhan ibarat tamu agung yang datang membawa rahmat dan ampunan. Ketika ia hampir berpamitan, justru di saat itulah Allah membuka pintu keberkahan yang paling luas,” tuturnya dengan suara lembut namun penuh makna.

Ia menjelaskan bahwa pada sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya secara luar biasa. Malam-malam itu menjadi waktu untuk memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbanyak doa, karena di dalamnya tersimpan malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

“Bisa jadi malam yang kita jalani ini adalah malam yang dicari oleh para malaikat dan para hamba yang rindu ampunan Allah. Jangan biarkan ia berlalu tanpa doa dan air mata taubat,” ujarnya.

Kata-kata itu seakan mengetuk hati para jamaah yang hadir. Beberapa terlihat menundukkan kepala, larut dalam perenungan. Di antara mereka ada para orang tua yang memejamkan mata dengan haru, ada pula para pemuda yang menyimak dengan penuh kesungguhan.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa meningkatkan ibadah tidak harus selalu dengan hal yang besar. Niat yang tulus, hati yang bersih, serta keistiqamahan dalam amalan kecil justru menjadi jalan menuju keberkahan yang agung.

“Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan terakhir kita di Ramadhan tahun ini. Tidak ada yang tahu apakah kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan berikutnya,” katanya, membuat suasana pengajian semakin hening dan penuh haru.

Kegiatan Tarling tersebut diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Muhammad Taubah. Dengan tangan terangkat dan suara yang bergetar, para jamaah memohon agar Allah SWT menerima ibadah mereka, mengampuni dosa-dosa mereka, dan mempertemukan kembali dengan Ramadhan di masa yang akan datang.

Malam itu, Mushola Nurul Huda tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah untuk melaksanakan ibadah. Ia menjadi ruang perenungan, tempat di mana hati-hati yang lelah oleh kehidupan kembali menemukan arah pulang.

Di tengah keheningan malam Ramadhan, pesan tentang kesungguhan beribadah di sepuluh malam terakhir itu mengalir pelan namun dalam—menghidupkan harapan bahwa setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan sampai ke langit, dan setiap air mata taubat akan menjadi saksi bahwa manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada Tuhannya.