HUT RI #81

Merawat Cinta Lewat Kata, Komunikasi Efektif dalam Rumah Tangga

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
05 Feb 2026
9x dibaca
SHARE

Banyumas — Di Balai Nikah KUA Jatilawang tersaji sebuah ikhtiar sunyi namun bermakna besar: mempersiapkan dua insan agar kelak mampu merawat cinta dalam bingkai rumah tangga. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dengan tutur yang tenang dan penuh empati, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Muhammad Rifki Fauzi dan Amalia Ramadhani. Kamis (05/02)

Tema yang diangkat bukanlah perkara remeh, melainkan jantung dari keharmonisan rumah tangga: komunikasi efektif. Sebab, dalam pernikahan, cinta tak cukup hanya dirasakan—ia harus diucapkan, didengarkan, dan dipahami.

Dengan pendekatan yang humanis dan reflektif, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin menyelami makna komunikasi sebagai jembatan hati. Ia menekankan bahwa rumah tangga bukan sekadar menyatukan dua nama dalam satu buku nikah, melainkan menyatukan dua cara berpikir, dua latar belakang, dan dua perasaan yang berbeda.

“Komunikasi bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau mendengar,” ujar Taubah, suaranya lembut namun sarat makna. Menurutnya, banyak keretakan rumah tangga bermula bukan dari kurangnya cinta, melainkan dari kata-kata yang tak tersampaikan atau disalahpahami.

Muhammad Rifki Fauzi dan Amalia Ramadhani mengikuti bimbingan dengan penuh perhatian. Sesekali mereka saling menatap, seakan menyadari bahwa perjalanan rumah tangga kelak akan dipenuhi dialog—tentang harapan, perbedaan, bahkan luka—yang semuanya menuntut keterbukaan dan kedewasaan.

Dalam sesi tersebut, Taubah juga mengingatkan pentingnya adab berbicara, mengelola emosi, serta memilih waktu dan cara yang tepat saat menyampaikan perasaan. Komunikasi yang efektif, katanya, adalah bentuk ibadah; ia menuntut kejujuran, kesabaran, dan niat menjaga pasangan, bukan melukai.

Bimbingan Perkawinan ini merupakan bagian dari upaya KUA Jatilawang dalam membekali calon pengantin dengan pengetahuan dan kesiapan mental sebelum memasuki gerbang pernikahan. Tidak hanya aspek administrasi yang diperhatikan, tetapi juga ketahanan keluarga sebagai pondasi masyarakat.

Menutup bimbingan, Muhammad Taubah berharap ilmu yang disampaikan tidak berhenti di ruang bimwin semata, melainkan hidup dan tumbuh dalam keseharian rumah tangga Rifki dan Amalia kelak. “Jika komunikasi dijaga, insyaallah cinta akan menemukan jalannya untuk tetap pulang,” tuturnya.

Di KUA Jatilawang hari itu, kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat. Ia menjadi doa, menjadi nasihat, dan menjadi bekal agar sebuah pernikahan kelak tak hanya sah secara hukum, tetapi juga hangat, utuh, dan penuh makna.