Nasehat KUA Jatilawang Kepada Catin : Kirim Pesan Rahasia Atau Jalin Hubungan Emosional di Luar Pernikahan Dapat Merusak Komitmen Berumah Tangga
Jatilawang — Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Budi Santoso dan Naeli Hidayah dengan materi menjaga kepercayaan pasangan, khususnya terhadap kebiasaan mengirim pesan rahasia dan menjalin hubungan emosional di luar pernikahan. Bimbingan ini menekankan pentingnya komunikasi terbuka, kesetiaan, dan komitmen untuk membangun keluarga yang harmonis. Kamis (15/10)
Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah menjelaskan bahwa keretakan rumah tangga tidak selalu bermula dari pertengkaran besar. Terkadang, persoalan tumbuh perlahan melalui percakapan yang sengaja disembunyikan, perhatian yang beralih kepada orang lain, atau kebiasaan mencurahkan isi hati kepada pihak luar tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan pasangan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut perlu disikapi secara bijaksana karena dapat mengurangi kedekatan emosional suami dan istri, terlebih apabila dilakukan secara berulang dan disertai kebohongan.
“Kesetiaan bukan hanya tentang tidak menjalin hubungan fisik dengan orang lain. Kesetiaan juga berarti menjaga kepercayaan, menghormati perasaan pasangan, dan tidak sengaja memelihara hubungan tersembunyi yang dapat melukai hati orang yang kita cintai,” menjadi pesan utama dalam materi bimbingan tersebut.
Muhammad Taubah mengingatkan bahwa penggunaan telepon genggam dan media sosial harus disertai tanggung jawab. Pesan pribadi, percakapan intensif, atau kebiasaan menghapus riwayat komunikasi agar tidak diketahui pasangan dapat menimbulkan kecurigaan dan merusak rasa aman dalam hubungan apabila menjadi bagian dari perilaku yang tidak jujur.
Meski demikian, ia menekankan bahwa menjaga kesetiaan bukan berarti pasangan harus saling mengawasi secara berlebihan. Rumah tangga yang sehat dibangun melalui keterbukaan, penghormatan terhadap privasi, kesepakatan mengenai batas pergaulan, dan kesediaan membicarakan hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan.
Budi Santoso dan Naeli Hidayah juga diajak membiasakan komunikasi yang sehat sejak awal pernikahan. Ketika menghadapi persoalan, keduanya diharapkan saling mendengarkan, mengungkapkan perasaan dengan santun, dan mencari penyelesaian bersama daripada mencari pelarian emosional di luar hubungan.
Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan mulus. Kesibukan pekerjaan, persoalan ekonomi, perbedaan karakter, dan berkurangnya perhatian dapat menjadi tantangan bagi pasangan. Karena itu, suami dan istri perlu terus merawat kedekatan melalui waktu bersama, komunikasi yang jujur, dan perhatian sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Melalui materi tersebut, Muhammad Taubah berharap Budi Santoso dan Naeli Hidayah dapat menjadikan kejujuran sebagai kebiasaan, kesetiaan sebagai prinsip, dan kasih sayang sebagai kekuatan dalam perjalanan rumah tangga mereka.
Sebab, rumah tangga tidak selalu runtuh karena badai yang datang dari luar. Adakalanya, ia melemah akibat rahasia kecil yang dibiarkan tumbuh dan kepercayaan yang perlahan diabaikan.
Cinta mempertemukan dua hati, tetapi kejujuran dan kesetiaanlah yang membantu keduanya tetap berjalan beriringan. Jangan sampai perhatian sesaat dari orang lain merusak ketenteraman yang dibangun bersama. Sebab, hati yang telah memilih untuk menikah juga harus terus belajar memilih untuk setia.
