Nasehat Penyuluh Kepada Jemaah Baiturrohim Agar Menata Bekal Menuju Akhirat
Jatilawang – Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Majelis Taklim Baiturrohim dengan materi “Dunia Hanya Persinggahan, Akhirat adalah Tujuan.” Kegiatan ini mengajak jemaah merenungi hakikat kehidupan, memperkuat keimanan, dan memanfaatkan kesempatan di dunia untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Jumat (23/10)
Dalam penyuluhan tersebut, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa kehidupan dunia, dengan segala kesibukan, kenikmatan, dan persoalannya, bukanlah tempat tinggal yang abadi. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan yang pada akhirnya akan mengantarkannya kembali kepada Allah SWT.
Pesan ini menjadi penting di tengah kehidupan yang kerap membuat manusia sibuk mengejar harta, jabatan, dan pengakuan, hingga terkadang melupakan tujuan akhir dari perjalanan hidupnya. Padahal, sebanyak apa pun yang berhasil dikumpulkan, tidak satu pun dapat dibawa pulang selain amal yang telah diperbuat dan rahmat Allah yang diharapkan.
Muhammad Taubah mengajak jemaah memahami bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan bukan berarti meninggalkan urusan dunia. Sebaliknya, kehidupan dunia perlu dijalani dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap berada dalam tuntunan agama.
Bekerja untuk menafkahi keluarga, mencari ilmu, membantu sesama, menjaga amanah, dan menunaikan tanggung jawab merupakan bagian dari ikhtiar yang bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar.
Dunia ibarat ladang tempat manusia menanam. Apa yang ditanam melalui kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan amal saleh diharapkan menjadi bekal ketika kelak menghadap Allah SWT. Sebaliknya, keserakahan, kezaliman, dan kebiasaan menyakiti sesama merupakan perbuatan yang harus dihindari karena setiap tindakan mengandung pertanggungjawaban.
Karena itu, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Kesuksesan sejati juga tercermin dari kebermanfaatan seseorang bagi orang lain, ketenangan hati dalam menjalani kehidupan, serta kesungguhannya menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Materi penyuluhan tersebut juga mengajak jemaah menyadari bahwa usia terus berkurang, meskipun manusia sering merasa masih memiliki banyak waktu. Hari-hari yang berlalu tidak akan kembali, sementara kesempatan untuk memperbaiki diri tidak pernah dijamin berlangsung selamanya.
Ada orang yang menghabiskan hidupnya mengejar kekayaan, tetapi lupa memberikan waktu kepada keluarga. Ada yang sibuk membangun nama baik di hadapan manusia, tetapi mengabaikan kejujuran ketika tidak ada seorang pun melihat. Ada pula yang menunda tobat karena merasa hari esok masih tersedia, tanpa menyadari bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya berakhir.
Kesadaran akan kematian hendaknya tidak membuat manusia kehilangan harapan, melainkan mendorongnya menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Selagi masih diberi napas, pintu perbaikan diri patut dimanfaatkan. Selagi orang tua masih ada, berbakti menjadi kesempatan yang berharga. Selagi keluarga masih berkumpul, kasih sayang perlu diwujudkan. Selagi tangan masih mampu terulur, kebaikan jangan ditunda.
Sebab, pada suatu hari, rumah yang ramai mungkin hanya menyisakan kenangan, jabatan yang dibanggakan akan berpindah kepada orang lain, dan harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan. Yang tidak boleh diabaikan adalah bekal iman dan amal yang diupayakan selama menjalani kehidupan.
Melalui Bimbingan dan Penyuluhan Islam di Majelis Taklim Baiturrohim, Muhammad Taubah mengajak jemaah menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam menentukan langkah. Salat perlu dijaga, Al-Qur'an perlu didekatkan dengan kehidupan, silaturahmi perlu dirawat, dan kepedulian kepada sesama perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Orientasi akhirat juga mengajarkan manusia agar tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi setiap ujian dapat menjadi ruang untuk melatih kesabaran, memperbaiki ikhtiar, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, dunia bukanlah sesuatu yang harus dibenci, melainkan amanah yang perlu dijalani dengan bijaksana. Manusia boleh memiliki cita-cita, membangun usaha, dan meraih keberhasilan, tetapi jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuatnya lupa kepada Sang Pemberi kehidupan.
Sebab, kita semua hanyalah musafir yang sedang singgah. Suatu saat, perjalanan akan berakhir, langkah akan terhenti, dan segala yang selama ini digenggam harus ditinggalkan. Semoga ketika waktu pulang itu tiba, kita tidak hanya membawa cerita tentang apa yang pernah dimiliki, tetapi juga amal saleh, hati yang bersih, dan harapan akan rahmat serta rida Allah SWT.
