Ngaji Bandongan HSN 2025, Bongkar 8 Bab Kitab Adabul Alim wal Mutaallim

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto (Humas) – Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 di Kabupaten Banyumas diisi dengan kegiatan keilmuan mendalam yang bertujuan menguatkan karakter dan moralitas Aparatur Sipil Negara (ASN). Ngaji Bandongan berlangsung khidmat di Pendopo Wakil Bupati Banyumas, dihadiri oleh Wakil Bupati, Kepala Dindukcapil, Kabag Kesra, seluruh ASN Kemenag Banyumas dan Penyuluh Agama Islam se-Kabupaten Banyumas. Senin (20/10)

Kepala Kantor Kemenag Banyumas, Ibnu Asaddudin, dalam sambutannya menekankan pentingnya keseimbangan spiritual dan perencanaan dalam kehidupan modern. "Saat ini, kita banyak melihat fenomena yang melupakan doa, dan lebih mengutamakan perencanaan semata," ujar Ibnu. Beliau berharap, melalui ngaji bandongan ini, seluruh ASN dan Penyuluh Agama kembali menanamkan kesadaran bahwa sekuat apapun rencana birokrasi, kekuatan doa dan fondasi spiritual adalah penentu utama keberkahan dan keberhasilan tugas.

Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, yang membawa amanat dari Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan bahwa peringatan HSN yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober adalah momentum penting untuk mengenang semangat perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI. "HSN setiap tahun mengingatkan kita bahwasanya santri bukan hanya simbol kesalehan, tapi juga penggerak perubahan nasional dan kemajuan bangsa," ungkap Dwi Asih Lintarti.

Beliau juga menegaskan relevansi Ngaji Bandongan bagi ASN di tengah tantangan zaman. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan upaya untuk menumbuhkan cinta terhadap ilmu dan menghargai guru, serta membentuk kepribadian yang rendah hati dan berakhlak mulia.
"Ditengah derasnya arus globalisasi dan pengembangan teknologi, peran ASN dan masyarakat sangat penting dalam meneladani semangat santri. Melalui kegiatan ngaji bandongan ini, kita diajak untuk memperdalam pemahaman agama, memperkuat moralitas, serta menumbuhkan kesadaran spiritual dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat," pungkasnya.

Ngaji Bandongan yang merupakan bagian dari agenda HSN tingkat nasional ini dipimpin langsung oleh ulama setempat, K.H. Mughni Labib. Materi utama kajian adalah kitab monumental "Adabul 'Alim wal Muta'allim" (Adab bagi Orang Berilmu dan Pencari Ilmu), karya Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Kitab ini berfokus pada etika (akhlak) pendidik dan peserta didik, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam Al-Ghazali.

Kitab tersebut terdapat 8 (delapan) bab atau pembahasan. Bab pertama membahas tentang keutamaan ilmu, keutamaan belajar, dan keutamaan mengajar. Bab kedua menjelaskan mengenai 10 (sepuluh) etika seorang murid terhadap dirinya sendiri. Bab ketiga membicarakan tentang 12 (dua belas) etika seorang murid terhadap gurunya. Bab keempat membicarakan tentang 13 (tiga belas) etika seorang murid pada mata pelajaran yang sedang dipelajari. Bab kelima membahas tentang 20 (dua puluh) etika seorang guru terhadap dirinya sendiri. Bab keenam adab seorang guru dengan bidang ilmu yang dikuasai dan diajarkan. Bab ketujuh membahas tentang etika seorang guru dengan murid yang diajarnya. Dan bab kedelapan membahas tentang etika seorang guru terhadap buku yang diajarkannya.

Ngaji Bandongan Kitab Adab ini diharapkan menjadi bekal penting bagi ASN Kemenag Banyumas dalam mewujudkan pelayanan publik yang prima dengan landasan moralitas dan etika santri. (mzy/del)