HUT RI #81

Penyuluh Agama KUA Jatilawang Mengajak Jamaah Majelis Taklim Mujahidin Untuk Memaknai Rezeki yang Menenangkan Hati

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Okt 2026
4x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 23-10-2026 19:25
SHARE

Jatilawang – Tidak semua yang berlimpah menghadirkan ketenangan, dan tidak semua yang sederhana berarti kekurangan. Sebab, rezeki sejati bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa besar keberkahan yang dirasakan. Pesan inilah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Majelis Taklim Mujahidin dengan materi “Rezeki Berkah: Bukan Sekadar Banyak, tetapi Menenangkan.” Jumat (23/10)

Dalam penyuluhannya, Muhammad Taubah mengajak jemaah memahami bahwa rezeki tidak hanya berupa uang, rumah, atau harta benda. Kesehatan, keluarga yang harmonis, anak-anak yang saleh, hati yang bersyukur, serta kesempatan beribadah juga merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Ia mengingatkan bahwa kesibukan mengejar dunia terkadang membuat manusia lupa menikmati nikmat yang telah ada. Penghasilan boleh bertambah, tetapi jika diperoleh dengan cara yang tidak halal, hati kehilangan kedamaian. Harta boleh menumpuk, tetapi jika membuat seseorang jauh dari keluarga, lalai beribadah, dan terus merasa kurang, kekayaan belum tentu menghadirkan kebahagiaan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7 bahwa siapa yang bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmatnya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberkahan tumbuh dari rasa syukur, usaha yang halal, kejujuran, dan kesediaan berbagi dengan sesama.

Melalui kegiatan tersebut, Muhammad Taubah mengajak jemaah untuk tidak mengukur keberhasilan hidup hanya dari isi dompet atau banyaknya harta. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang mencukupi kebutuhan, menguatkan ibadah, membahagiakan keluarga, serta membawa manfaat bagi orang lain.

Sebab, pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah harta yang membuat kita terus berlari mengejar lebih banyak, melainkan rezeki yang membuat kita mampu berhenti sejenak, memeluk keluarga, bersujud dengan tenang, dan mengucap syukur tanpa merasa menjadi manusia yang paling kekurangan. Sebab, kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang ketenteraman hati dalam menerima karunia Allah SWT.

Tags: agama