Penyuluh Ajarkan Doa Lailatul Qadar kepada Santri TPQ Nurul Huda
Banyumas — Suasana TPQ Nurul Huda. Terlihat khidmat saat Anak-anak bersarung dan berkerudung duduk rapi bersila, mata mereka berbinar penuh harap. Mendenganrka pengajaran dari Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, Muhammad Taubah, dengan materi yang sangat istimewa: doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menjumpai malam Lailatul Qadar. Selasa (10/03)
Dengan suara lembut yang sarat kehangatan, Muhammad Taubah membuka pelajaran dengan mengajak para santri memahami betapa agungnya malam yang menjadi dambaan setiap orang beriman. Ia menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan—malam yang dipenuhi rahmat, ampunan, serta keberkahan yang tak terhingga.
“Anak-anak,” ujarnya dengan senyum penuh kasih, “tidak semua orang mendapatkan kesempatan merasakan kemuliaan malam Lailatul Qadar. Karena itu, siapa yang bersungguh-sungguh mencarinya dengan ibadah dan doa, Allah akan memberinya karunia yang sangat besar.”
Suasana ruang belajar itu menjadi semakin khidmat ketika ia mulai mengajarkan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika seseorang berharap bertemu dengan malam penuh kemuliaan tersebut.
Dengan penuh penghayatan, ia membimbing para santri melafalkan doa:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Para santri menirukan doa itu dengan suara yang polos namun penuh kesungguhan. Sebagian dari mereka mengulanginya berkali-kali agar dapat menghafalnya dengan baik. Pemandangan itu menjadi potret keindahan pendidikan spiritual yang menyentuh hati—ketika generasi kecil diajarkan untuk memohon ampun kepada Tuhannya dengan tulus.
Muhammad Taubah kemudian menjelaskan makna doa tersebut dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak. Ia menuturkan bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan, namun Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon ampun.
“Ketika kalian membaca doa ini di malam Lailatul Qadar,” tuturnya dengan penuh haru, “mintalah kepada Allah agar semua dosa diampuni. Mintalah agar hidup kalian menjadi lebih baik, agar kalian menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang membanggakan orang tua.”
Beberapa santri tampak mengangguk pelan. Ada pula yang menatap penuh perhatian, seakan mencoba memahami kedalaman makna dari setiap kalimat yang diajarkan.
Kegiatan pembelajaran itu bukan sekadar menghafal doa, melainkan juga menanamkan kecintaan kepada ibadah sejak usia dini. Di tengah derasnya arus zaman, pengajaran seperti ini menjadi benteng moral yang menjaga hati generasi muda agar tetap dekat dengan nilai-nilai keimanan.
Muhammad Taubah berharap para santri tidak hanya mampu menghafal doa tersebut, tetapi juga mengamalkannya dengan penuh keikhlasan ketika malam-malam terakhir Ramadhan tiba.
“Kelak ketika kalian dewasa,” katanya, “ingatlah bahwa masa kecil kalian pernah diisi dengan doa-doa yang indah. Doa itulah yang akan menjadi cahaya dalam perjalanan hidup kalian.”
Di penghujung kegiatan, para santri bersama-sama mengulang doa Lailatul Qadar dengan suara yang bergema di ruangan kecil itu. Suara mereka mungkin masih polos, tetapi doa-doa itu melangit dengan ketulusan yang jarang dimiliki oleh orang dewasa.
