Penyuluh KUA Gumelar Ajak Jamaah MT Hijrotunnisa Cihonje Saling Menyayangi Lewat Doa
Oleh HUMAS
Gumelar – Penyuluh Agama Islam KUA Gumelar terus bergerak aktif dalam mempererat tali persaudaraan umat di tingkat akar rumput. Langkah positif ini diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan keagamaan yang digelar di Majelis Taklim (MT) Hijrotunnisa, lingkungan RW 08, Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar. Dalam pertemuan tersebut, tema yang diangkat adalah "Doa Menyayangi Umat Islam". Selasa (07/07)
Kehadiran Penyuluh Agama Islam Gumelar di tengah ibu-ibu majelis taklim ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman bahwa rasa kasih sayang antar-sesama muslim merupakan indikator penting dari kualitas keimanan seseorang.
Dalam paparan materinya, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Gumelar membedah esensi mendalam dari menyayangi sesama muslim yang didasarkan pada sabda Rasulullah SAW: "Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim).
Sebagai implementasi dari hadis tersebut, jamaah diajarkan untuk menjadikan doa sebagai senjata spiritual sekaligus bentuk kasih sayang tertinggi. Doa dinilai melampaui batas ruang dan waktu karena bisa dipanjatkan kapan saja. Ada tiga aspek doa yang ditekankan dalam penyuluhan ini:
-
Doa untuk Kebaikan Universal: Mengajak jamaah untuk rutin mendoakan agar sesama muslim senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, serta perlindungan dari segala keburukan dunia dan akhirat.
-
Doa Memohon Ampunan Bersama: Mengamalkan doa permohonan ampunan bagi seluruh kaum mukminin dan mukminat. Selain berwujud pahala yang besar, doa ini dipercaya mampu mengikis sekat ego dan mempererat ikatan hati.
-
Doa dalam Ketidakhadiran (Dhahril Ghaib): Menekankan pentingnya mendoakan saudara muslim secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Secara syar'i, doa tulus jenis ini termasuk ke dalam golongan doa yang paling mustajab di sisi Allah SWT.
Lebih dari sekadar kajian teori, penyuluhan di MT Hijrotunnisa ini ditargetkan mampu membawa perubahan perilaku nyata dalam kehidupan bersosial, khususnya bagi warga RW 08 Desa Cihonje.
Penyuluh Agama Islam mengajak para jamaah untuk menghilangkan sifat hasad dan dengki, lalu menggantinya dengan rasa syukur saat melihat tetangga mendapatkan nikmat. Selain itu, jamaah didorong untuk membangun budaya saling membantu sebagai aksi nyata kepedulian terhadap warga sekitar yang sedang mengalami kesulitan ekonomi atau musibah.
Terakhir, jamaah diingatkan bahwa majelis taklim harus menjadi wadah utama untuk memperkuat silaturahmi dan mempraktikkan teori kasih sayang tersebut dalam interaksi sehari-hari. Melalui gerakan spiritual dan sosial yang konsisten ini, KUA Gumelar berharap dapat menciptakan tatanan lingkungan Desa Cihonje yang semakin harmonis, damai, penuh toleransi, dan mencerminkan indahnya ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
