HUT RI #81

Penyuluh KUA Gumelar Bedah Makna Keyakinan Hati di MT Nurul Iman

HUMAS
HUMAS
12 Feb 2026
58x dibaca
SHARE

Banyumas – Sebagai upaya memperkokoh ketahanan mental dan spiritual masyarakat, KUA Gumelar melalui Penyuluh Agama Islam, Bapak Kambali, melaksanakan kegiatan penyuluhan rutin di Majelis Taklim (MT) Nurul Iman, Desa Cihonje. Dalam pertemuan tersebut, tema "Keyakinan Hati" atau I’tiqad diangkat menjadi bahasan utama bagi para jamaah.Kamis (12/02)

Bapak Kambali menekankan bahwa keyakinan hati adalah inti dari setiap napas ibadah. Menurutnya, tanpa keyakinan yang kokoh, praktik keagamaan hanya akan terjebak menjadi rutinitas fisik belaka tanpa makna yang mendalam.

Dalam penyuluhannya, Kambali menguraikan bahwa keyakinan bukan sekadar percaya, melainkan kemantapan jiwa yang berimbas pada perilaku sehari-hari. Beberapa poin krusial yang disampaikan meliputi:

  • Pemurnian Tauhid: Menanamkan kesadaran bahwa segala aspek kehidupan, termasuk rezeki dan ujian hidup yang dialami warga Desa Cihonje, sepenuhnya berada di bawah kehendak Tuhan.

  • Ketenangan Jiwa (Thuma'ninah): Menjelaskan bahwa hati yang yakin memiliki sandaran yang kuat, sehingga tidak akan mudah goyah oleh terpaan berita hoaks maupun provokasi yang dapat memecah belah warga.

  • Manifestasi Ibadah: Keyakinan hati diposisikan sebagai mesin penggerak. Seseorang yang yakin akan balasan kebaikan akan merasa lebih ringan dalam bersedekah dan membantu sesama warga.

Kehadiran penyuluh dari KUA Gumelar di tengah Majelis Taklim ini sekaligus menjalankan fungsi sebagai pilar edukasi agama yang moderat dan menyejukkan. Selain memberikan materi, Bapak Kambali juga membuka ruang dialog bagi jamaah MT Nurul Iman terkait persoalan ibadah praktis maupun problematika keluarga.

"Penyuluh agama hadir sebagai penyambung lidah pemerintah untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kehidupan berbangsa yang rukun dan damai," ungkap Kambali di sela-sela kegiatannya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan warga Desa Cihonje dapat meningkatkan kualitas kekhusyukan dalam beribadah serta membangun ketangguhan mental (resiliensi) dalam menghadapi tantangan ekonomi maupun sosial. Selain itu, penguatan keyakinan ini diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi antarwarga berbasis kesamaan nilai-nilai keimanan.