HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Ajak Jamaah MT Al-Irsyad Teladani Nilai Pesantren

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Okt 2026
37x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 24-10-2026 21:20
SHARE

Jatilawang – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Jatilawang, H. Ahmad Muttaqin, menggelar kegiatan bimbingan dan penyuluhan kepada jamaah Majelis Taklim Al-Irsyad. Kegiatan yang berlangsung pukul 14.00 hingga 15.30 WIB tersebut mengusung tema "Refleksi Hari Santri di Tengah Carut Marut Negeri". Jumat (23/10)

Dalam pemaparannya, H. Ahmad Muttaqin mengajak para jamaah untuk mencermati dinamika kebangsaan saat ini. Beliau menyampaikan rasa prihatin atas berbagai ujian dan persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Menurutnya, terdapat tiga indikator utama yang menandai kondisi carut-marut di tengah masyarakat saat ini: Krisis Moral dan Etika: Kejujuran seolah menjadi barang langka.

Praktik korupsi kian merajalela dan tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Amanah kekuasaan kerap disalahgunakan untuk kepentingan kelompok, yang pada akhirnya kian menghimpit masyarakat kecil. Perpecahan Sosial: Polarisasi di tengah masyarakat sangat mudah tersulut akibat kepentingan jangka pendek. Nilai ukhuwah (persaudaraan) kian terkoyak oleh maraknya kebencian, hoaks, dan fitnah, baik di ruang digital maupun di kehidupan nyata. Degradasi Nilai Spiritual dan Keadilan: Hukum kerap tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Rasa keadilan publik terus terusik oleh kebijakan-kebijakan yang dirasa jauh dari prinsip kemaslahatan umat. Menghadapi tantangan tersebut, H. Ahmad Muttaqin menekankan bahwa santri—dengan tradisi keilmuan (tafaqquh fiddin), kemandirian, serta akhlakul karimah yang ditempa di pesantren—memiliki peran kunci untuk memperbaiki keadaan bangsa. Nilai-nilai dasar ke-santri-an perlu disebarluaskan dan diinternalisasikan ke dalam seluruh sendi kehidupan bernegara, antara lain: Integritas dan Kejujuran (Al-Amanah): Santri dididik untuk selalu jujur dari hal-hal terkecil. Jika nilai ini dipegang teguh oleh para pemimpin dan pemangku kebijakan, praktik korupsi dan kecurangan dipastikan akan terkikis. Kemandirian dan Etos Kerja (Al-I'timad 'ala an-Nafs): Mentalitas bergantung pada fasilitas maupun mentalitas koruptif harus digantikan dengan etos kerja keras dan produktivitas. Toleransi (Tasamuh) dan Ukhuwah: Di pesantren, para santri terbiasa hidup rukun dalam latar belakang daerah, suku, dan pandangan fiqih yang beragam. Sikap ini sangat mendesak untuk merajut kembali persatuan bangsa yang sedang terancam retak.

Mengakhiri pemaparannya, beliau mengutip hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya amar ma'ruf nahi munkar serta tanggung jawab setiap individu sebagai pemimpin: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Melalui momentum Hari Santri ini, beliau berharap para jamaah Majelis Taklim Al-Irsyad mampu mengambil iktibar (pelajaran) dan menjadi agen perbaikan (al-mushlih) di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Suasana bimbingan berlangsung secara khidmat dan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan serta kemajuan bangsa Indonesia.