Penyuluh KUA Jatilawang Ajak Jemaah MT Al-Irsyad Kenali Tanda-Tanda Penghuni Neraka
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Kehidupan dunia sering membuat manusia sibuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya akan ditinggalkan. Harta dapat berpindah tangan, jabatan dapat berakhir, usia terus berkurang, sementara perjalanan menuju kehidupan akhirat semakin dekat tanpa pernah menunggu kesiapan manusia. Jumat (02/10)
Pesan reflektif tersebut disampaikan Ahmad Muttaqin, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Jatilawang, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama Islam di Majelis Taklim Al-Irsyad. Pada kesempatan tersebut, Ahmad Muttaqin menyampaikan materi “Tanda-Tanda Penghuni Neraka” sebagai bahan renungan bagi jemaah untuk lebih mengenali perilaku yang harus dihindari dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam penyampaiannya, Ahmad Muttaqin menegaskan bahwa pembahasan mengenai neraka bukan dimaksudkan semata-mata untuk menakut-nakuti jemaah. Lebih dari itu, materi tersebut menjadi pengingat agar setiap Muslim memiliki kesadaran untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, serta berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan.
Menurutnya, manusia terkadang lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada memeriksa kekurangan yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Padahal, perjalanan menuju akhirat merupakan perjalanan pribadi yang setiap langkahnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Sejumlah perilaku tercela menjadi bagian penting dalam materi penyuluhan, di antaranya kesombongan, kebohongan, fitnah, menggunjing, menyakiti sesama, mengkhianati amanah, serta berbagai perbuatan yang menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah SWT.
Ahmad Muttaqin mengajak jemaah agar tidak menjadikan pembahasan tentang penghuni neraka sebagai alat untuk menghakimi orang lain. Sebaliknya, materi tersebut hendaknya menjadi cermin untuk melihat diri sendiri.
“Jangan sibuk mencari siapa yang salah di hadapan kita, sebelum kita bertanya kepada diri sendiri apakah hari ini kita sudah benar di hadapan Allah,” menjadi pesan reflektif yang relevan dengan semangat muhasabah dalam kegiatan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga hubungan dengan Allah harus berjalan seiring dengan menjaga hubungan dengan sesama manusia. Kesalehan tidak hanya tercermin dari ibadah yang dilakukan secara pribadi, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga lisannya, menghormati orang lain, menunaikan amanah, membantu mereka yang membutuhkan, dan menghadirkan ketenteraman di tengah masyarakat.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali 'Imran ayat 185, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian dan setiap manusia akan memperoleh balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sesungguhnya.
Di hadapan jemaah, Ahmad Muttaqin juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara rasa takut kepada azab Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya. Seorang Muslim tidak seharusnya tenggelam dalam ketakutan hingga berputus asa, tetapi menjadikan rasa takut sebagai energi untuk memperbaiki diri dan menjadikan harapan sebagai kekuatan untuk terus berbuat baik.
Menurutnya, selama manusia masih diberi kesempatan hidup, pintu pertobatan dan perbaikan diri tetap terbuka. Kesalahan masa lalu tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran agar langkah berikutnya lebih dekat kepada kebaikan.
Kegiatan bimbingan penyuluhan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Penyuluh Agama KUA Kecamatan Jatilawang dalam memberikan pendampingan keagamaan kepada masyarakat. Melalui majelis taklim, pesan-pesan agama diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran yang kemudian diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Jemaah diajak untuk memulai perubahan dari hal-hal sederhana: menjaga salat, memperbanyak istigfar, menjaga lisan, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, menghindari permusuhan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperbanyak amal kebajikan.
Sebab, kehidupan pada hakikatnya adalah perjalanan pulang. Setiap hari yang berlalu bukan sekadar berkurangnya usia, melainkan semakin dekatnya manusia kepada sebuah perjumpaan yang pasti. Ketika harta, rumah, kendaraan, dan segala kemegahan dunia tidak lagi dapat menemani, amal kebaikanlah yang menjadi bekal perjalanan.
Melalui materi “Tanda-Tanda Penghuni Neraka”, Ahmad Muttaqin mengajak jemaah Majelis Taklim Al-Irsyad untuk menjadikan rasa takut kepada neraka sebagai dorongan meninggalkan kemaksiatan dan menjadikan harapan terhadap rahmat Allah sebagai kekuatan untuk memperbanyak kebaikan.
Pada akhirnya, peringatan tentang neraka bukanlah kisah untuk membuat manusia kehilangan harapan. Ia adalah ketukan agar hati terbangun sebelum terlambat; sebuah panggilan agar manusia kembali menata langkah, membersihkan hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mendekat kepada Allah SWT.
Sebab, selama matahari belum terbenam dalam kehidupan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki arah perjalanan. Dan selama napas masih berembus, masih ada waktu untuk pulang kepada Allah dengan hati yang lebih bersih.
