Penyuluh KUA Jatilawang Berpesan Agar Jamaah Baiturrohman Siapkan Bekal Sebelum Kematian
Jatilawang – Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri. Esok ingin lebih rajin beribadah, nanti ingin meminta maaf, dan suatu hari berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik. Namun, kematian tidak pernah menunggu semua rencana itu selesai. Ia datang tanpa harus mengetuk pintu dan tanpa meminta persetujuan manusia. Jumat (23/10)
Pesan mendalam inilah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Jatilawang, dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Majelis Taklim Baiturrohman dengan materi “Kematian Tidak Menunggu Kita Siap: Bekal Apa yang Sudah Kita Bawa?”
Dalam penyuluhannya, Muhammad Taubah mengajak jemaah merenungkan bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan akhirat. Harta yang dikumpulkan, jabatan yang dibanggakan, dan kemewahan yang dipertontonkan pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang menyertai manusia bukanlah banyaknya pujian, melainkan amal yang dikerjakan dengan ikhlas dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 185 bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Ayat ini menjadi pengingat bahwa kematian bukan sekadar kabar duka yang menimpa orang lain, melainkan kepastian yang suatu saat akan mengetuk kehidupan kita sendiri.
Muhammad Taubah mengajak jemaah menjadikan kesadaran akan kematian sebagai dorongan untuk memperbaiki salat, memperbanyak amal saleh, menjaga lisan, menyambung silaturahmi, serta meminta maaf kepada orang-orang yang pernah terluka karena perkataan dan perbuatan kita. Sebab, penyesalan paling menyakitkan mungkin bukan ketika kita kehilangan sesuatu di dunia, melainkan ketika kesempatan berbuat baik telah berakhir.
Bayangkan, ketika nama kita kelak disebut dalam doa dan tubuh kita terbujur kaku, tak ada lagi kesempatan untuk memeluk orang tercinta, meminta maaf kepada mereka yang pernah kita sakiti, atau menambah satu sujud yang dahulu sering kita tunda. Yang tersisa hanyalah amal dan harapan akan rahmat Allah SWT.
Melalui penyuluhan ini, Muhammad Taubah mengingatkan jemaah agar tidak menunggu usia senja untuk bertobat dan tidak menunggu kehilangan untuk menghargai kehidupan. Sebab, kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang masih tersisa. Selagi napas masih berembus, pintu kebaikan masih terbuka. Mari menyiapkan bekal sebelum perjalanan berakhir, agar ketika panggilan itu datang, kita tidak pulang dengan tangan kosong dan hati yang dipenuhi penyesalan.
