HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Serukan Kepada Jemaah Al Baroah Agar Jaga Lisan Untuk Selamatkan Kehidupan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Okt 2026
8x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 24-10-2026 18:49
SHARE

Jatilawang – Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, melaksanakan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Majelis Taklim Al Baro’ah dengan materi “Lisan yang Menyelamatkan, Lisan yang Menjerumuskan.” Penyuluhan ini mengajak jemaah lebih bijak dalam berbicara, menghindari perkataan yang menyakiti sesama, serta menjadikan lisan sebagai sarana menyebarkan kebaikan dan mempererat persaudaraan. Jumat (23/10)

Dalam kehidupan sehari-hari, ucapan sering kali keluar begitu mudah, tetapi dampaknya dapat menetap begitu lama. Satu kalimat sederhana mampu menguatkan seseorang yang sedang rapuh. Sebaliknya, kata-kata yang dilontarkan tanpa pertimbangan dapat meninggalkan luka yang tak terlihat, bahkan ketika orang yang mengucapkannya telah melupakan apa yang pernah dikatakan.

Melalui materi tersebut, Muhammad Taubah mengajak jemaah menyadari bahwa menjaga lisan bukan sekadar persoalan sopan santun, melainkan bagian penting dari akhlak dan tanggung jawab seorang muslim.

Lisan merupakan nikmat Allah SWT yang patut disyukuri. Melalui lisan, manusia dapat membaca Al-Qur’an, berzikir, menyampaikan nasihat, menghibur orang yang berduka, serta mengucapkan kata-kata yang menumbuhkan harapan.

Seseorang yang sedang menghadapi kesulitan terkadang tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia hanya ingin didengarkan, dipahami, dan diyakinkan bahwa dirinya tidak sendirian. Pada saat seperti itu, ucapan yang lembut dapat menjadi penguat ketika semangat hampir runtuh.

Begitu pula dalam keluarga. Nasihat orang tua yang disampaikan dengan kasih sayang dapat menjadi pegangan bagi anak sepanjang hidupnya. Perkataan pasangan yang penuh penghargaan mampu menjaga kehangatan rumah tangga. Sementara itu, ucapan terima kasih dan permintaan maaf dapat merawat hubungan yang hampir retak.

Karena itu, lisan hendaknya digunakan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, menjaga kehormatan orang lain, serta menghadirkan ketenteraman di tengah masyarakat. Kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar; terkadang, satu kalimat yang tulus sudah cukup untuk membuat seseorang kembali memiliki harapan.

Di sisi lain, lisan juga dapat menjadi sumber pertengkaran ketika digunakan untuk menghina, memfitnah, menggunjing, menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, atau membuka aib orang lain.

Luka akibat perkataan memang tidak selalu terlihat oleh mata. Tidak ada darah yang mengalir, tidak ada perban yang membalut, tetapi rasa sakitnya dapat tinggal dalam ingatan selama bertahun-tahun. Seseorang mungkin tersenyum di hadapan orang lain, padahal masih menyimpan kesedihan akibat kalimat yang pernah diterimanya.

Lebih menyedihkan lagi, orang yang melukai melalui ucapan terkadang menganggapnya sekadar candaan. Ia lupa bahwa sesuatu yang terasa lucu bagi dirinya mungkin menjadi penghinaan bagi orang lain. Kata-kata yang dianggap sepele oleh pengucapnya bisa menjadi beban panjang bagi orang yang mendengarnya.

Pesan penyuluhan ini mengajak jemaah lebih berhati-hati sebelum berbicara. Sebelum sebuah kalimat dilepaskan, penting untuk mempertimbangkan apakah perkataan itu benar, apakah disampaikan dengan cara yang pantas, dan apakah membawa manfaat bagi orang yang mendengarnya.

Sebab, tidak semua hal yang diketahui harus diceritakan, tidak semua kemarahan harus diluapkan, dan tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan saling merendahkan.

Menjaga lisan bukan berarti manusia tidak boleh menyampaikan pendapat atau menegur kesalahan. Kebenaran tetap perlu disampaikan, tetapi dengan kebijaksanaan, kesantunan, dan niat untuk memperbaiki, bukan mempermalukan.

Di tengah derasnya komunikasi melalui media sosial, tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting. Pesan yang ditulis dalam keadaan marah dapat menyebar jauh melampaui maksud awalnya. Berita yang belum terverifikasi dapat merusak nama baik seseorang, sedangkan komentar yang kasar dapat memicu permusuhan di antara orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal.

Oleh karena itu, setiap muslim perlu membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara dan memeriksa kebenaran sebelum membagikan informasi. Ketika emosi memuncak, diam sejenak dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana daripada mengucapkan sesuatu yang kelak disesali.

Pada akhirnya, materi “Lisan yang Menyelamatkan, Lisan yang Menjerumuskan” mengingatkan jemaah Majelis Taklim Al Baro’ah bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya tercermin dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain melalui perkataan dan perbuatannya.

Jangan sampai lisan yang seharusnya digunakan untuk berdoa justru menjadi sebab orang lain terluka. Jangan sampai kata-kata yang dapat menghadirkan kedamaian malah menumbuhkan kebencian. Sebab, ucapan yang telah terlepas mungkin tak bisa ditarik kembali, tetapi setiap orang masih memiliki kesempatan untuk belajar berbicara dengan lebih santun, meminta maaf dengan tulus, dan menjadikan lisannya jalan menuju rida Allah SWT.

Tags: agama