HUT RI #81

Penyuluh Pekuncen Sosialisasikan Moderasi Beragama di SD Negeri Banjaranyar

HUMAS
HUMAS
10 Des 2025
70x dibaca
SHARE

Banyumas — Upaya memperkuat pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran terus dilakukan oleh KUA Pekuncen. Penyuluh Agama Islam KUA Pekuncen, Sudiro, melaksanakan kegiatan sosialisasi Moderasi Beragama di SD Negeri Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa serta guru sebagai bagian dari pembinaan karakter sejak dini. Selasa (09/12)

Acara dibuka dengan sambutan pihak sekolah yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif KUA Pekuncen dalam menghadirkan edukasi keagamaan yang menekankan nilai-nilai toleransi, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Pihak sekolah menilai materi ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini, terutama dalam membentuk generasi yang memiliki kecerdasan spiritual sekaligus kemampuan bersosial secara harmonis.

Dalam penyampaian materinya, Sudiro menjelaskan bahwa Moderasi Beragama bukanlah upaya mengurangi nilai-nilai agama, tetapi justru mengajak umat beragama untuk mengamalkan ajarannya secara lebih damai, adil, dan tidak berlebihan. Ia menegaskan bahwa moderasi adalah sikap tengah, yaitu memahami ajaran agama secara proporsional serta menghindari sikap ekstrem maupun intoleran.

“Moderasi Beragama mengajarkan kita untuk saling menghormati, tidak gampang mencela, dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Ini penting ditanamkan sejak dini agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik dan mudah bergaul dalam lingkungan yang beragam,” ujarnya dalam sesi penyampaian materi.

Sudiro juga menekankan empat indikator utama Moderasi Beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Pada kesempatan tersebut, ia mengajak para siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati teman, menjaga sopan santun, serta menghindari perilaku bullying yang dapat merusak hubungan sosial di sekolah.

Kegiatan berlangsung interaktif, ditandai dengan antusiasme para siswa yang aktif menjawab pertanyaan dan mengikuti diskusi ringan yang dibawakan Sudiro. Para guru juga menyampaikan dukungannya agar materi Moderasi Beragama dapat menjadi bagian dari pembiasaan karakter di lingkungan sekolah.

Di akhir acara, Sudiro berharap kegiatan sosialisasi seperti ini dapat terus dilakukan di berbagai sekolah sebagai bentuk kontribusi KUA dalam membina masyarakat, terutama generasi muda, agar memiliki pemahaman keagamaan yang moderat dan mampu hidup rukun dalam keberagaman.

Sosialisasi ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian, serta komitmen bersama dalam menumbuhkan nilai-nilai moderasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.