Penyuluh Temani Pekerja Bangunan Lembur hingga Malam

Oleh KUA Wangon
SHARE

 

Banyumas – Dedikasi tinggi tidak hanya ditunjukkan oleh para pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon dalam urusan administrasi dan kepenghuluan, melainkan juga dalam mendukung percepatan rehabilitasi gedung kantor. Pada Ahad malam, suasana renovasi KUA Wangon tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah penyuluh agama yang biasanya sibuk memberikan bimbingan rohani kepada masyarakat, terlihat ikut turun ke lapangan untuk menemani sekaligus membantu para pekerja bangunan yang sedang mengejar target lembur malam. Senin (20/07)

Aksi simpatik ini spontan dilakukan sebagai wujud solidaritas dan kebersamaan antar lini demi mewujudkan fasilitas pelayanan publik yang lebih nyaman bagi masyarakat Wangon. Kehadiran para penyuluh di tengah kepulan semen dan deru alat bangunan tidak hanya membawa bantuan tenaga fisik, tetapi juga memberikan suntikan moral yang besar bagi para pekerja. Mereka saling bahu membahu agar proses pengerjaan dapat berjalan lebih cepat dan efisien.

Joharulloh, salah satu penyuluh agama fungsional KUA Wangon yang ikut serta dalam aksi sosial tersebut, menyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan kerja adalah bagian dari implementasi dakwah itu sendiri. Menurutnya, berdakwah tidak selalu harus di atas mimbar, tetapi juga melalui tindakan nyata yang meringankan beban sesama, terutama mereka yang sedang bekerja keras membangun fasilitas keagamaan.

"Dakwah itu luas, tidak sebatas lisan saja, tetapi juga dengan perbuatan nyata. Menemani dan sedikit membantu bapak-bapak tukang yang lembur hingga larut malam ini adalah bentuk apresiasi kami atas peluh keringat mereka. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak berjuang sendirian demi mempercantik kantor pelayanan umat ini," tutur Joharulloh di sela-sela kegiatannya.

Dukungan langsung dari pihak internal KUA Wangon ini sontar memicu semangat tersendiri bagi para pekerja yang mulai kelelahan. Suasana kerja lembur yang biasanya terasa berat dan menjemukan, seketika berubah menjadi lebih hangat, akrab, dan penuh dengan obrolan ringan yang sesekali diselingi tawa bersama di bawah temaram lampu proyek.

Pai, salah seorang tukang bangunan yang memimpin jalannya lembur malam tersebut, mengaku sangat terharu dan tidak menyangka akan mendapatkan perhatian yang begitu besar dari para pemuka agama setempat. Kehadiran para penyuluh dinilainya sangat membantu, baik secara psikologis maupun teknis di lapangan.

"Jujur kami merasa sangat diwongke (diorangkan) dan dihargai di sini. Biasanya kalau lembur malam begini sepi dan lelah sekali, tapi malam ini rasanya beda karena Pak Joharulloh dan teman-teman penyuluh lainnya mau kotor-kotoran ikut menemani bahkan membawakan kami kopi dan camilan. Bantuan tenaga mereka membuat pekerjaan kami malam ini terasa jauh lebih ringan," ungkap Pai dengan wajah berseri penuh rasa terima kasih. (jhr)