Perbaiki Salat dan Tata Kehidupan, Nasehat Penyuluh Kepada Jamaah Al Ikhwan
Jatilawang – Ada kalanya manusia begitu sibuk memperbaiki nasib, mengejar dunia, dan mencari jalan keluar dari berbagai persoalan, hingga lupa membenahi hubungan dengan Sang Pencipta. Padahal, di antara lima waktu yang Allah SWT anugerahkan setiap hari, tersimpan kesempatan untuk kembali menenangkan hati dan meluruskan arah kehidupan. Jumat (23/10)
Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Majelis Taklim Al Ikhwan dengan materi “Memperbaiki Salat, Memperbaiki Seluruh Kehidupan.”
Dalam penyuluhannya, Muhammad Taubah mengajak jemaah menjadikan salat bukan sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa dan ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat yang dijaga dengan kesungguhan, kekhusyukan, dan pemahaman akan maknanya diharapkan membentuk pribadi yang lebih sabar, jujur, disiplin, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan bahwa memperbaiki salat tidak berhenti pada gerakan yang benar, tetapi perlu tercermin dalam akhlak. Bagaimana mungkin seseorang berdiri menghadap Allah, tetapi masih gemar menyakiti sesama? Bagaimana mungkin lisan melafalkan doa, tetapi tangan enggan menolong mereka yang membutuhkan?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini menjadi pengingat bahwa salat semestinya meninggalkan jejak kebaikan, bukan hanya di atas sajadah, melainkan juga dalam tutur kata, sikap, pekerjaan, dan hubungan antarmanusia.
Melalui kegiatan tersebut, Muhammad Taubah mengajak jemaah untuk mulai memperbaiki salat dari hal-hal sederhana: menjaga waktunya, menyempurnakan tata caranya, memahami bacaan, dan menghadirkan hati saat menghadap Allah SWT.
Sebab, mungkin ada air mata yang tak mampu kita ceritakan kepada siapa pun, ada beban yang tak sanggup kita pikul sendirian, dan ada luka yang tak dapat disembuhkan oleh dunia. Namun, di hadapan Allah, kita selalu memiliki tempat untuk bersujud dan memohon pertolongan.
Jangan menunggu hidup menjadi hancur untuk kembali memperbaiki salat. Bisa jadi, bukan seluruh dunia yang perlu berubah terlebih dahulu, melainkan hati kita yang perlu kembali menemukan arah melalui sujud yang tulus.
