Pernikahan Bukan Tentang Siapa yang Paling Benar, Tetapi Siapa yang Mau Mendengar

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di tengah pagi yang bersahaja di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, suasana tampak lebih hangat dari biasanya. Bukan karena teriknya matahari, melainkan karena hadirnya sepasang calon pengantin yang membawa harapan besar menuju gerbang kehidupan baru. Mereka adalah Wahyu Dwi Andrianto dan Rofiqoh Janah, dua insan yang bersiap menapaki jalan panjang bernama pernikahan.  Senin (27/04)

Dalam ruang sederhana itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, berdiri dengan penuh keteduhan. Suaranya mengalir pelan namun pasti, menyapa hati, seolah mengerti bahwa pernikahan bukan sekadar tentang dua nama yang disatukan, tetapi dua jiwa yang harus belajar memahami, menerima, dan saling menguatkan.

Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang ia sampaikan hari itu mengangkat tema yang kerap dianggap sederhana, namun sesungguhnya menjadi fondasi utama dalam rumah tangga: komunikasi efektif antara suami dan istri.

“Pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau mendengar,” tutur Muhammad Taubah dengan penuh makna. Kalimat itu menggantung di udara, seolah meresap perlahan ke dalam hati kedua calon pengantin yang duduk dengan khidmat.

Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa komunikasi bukan hanya tentang kata-kata, melainkan tentang rasa. Tentang bagaimana sebuah diam bisa dimaknai, bagaimana sebuah keluh dapat dipeluk tanpa dihakimi, dan bagaimana perbedaan tidak selalu harus berujung pada pertentangan.

Wahyu dan Rofiqoh tampak menyimak dengan saksama. Sesekali mereka saling berpandangan, seolah menemukan potongan-potongan makna yang selama ini belum sempat mereka pahami. Ada harap yang tumbuh, ada kesadaran yang perlahan menguat—bahwa cinta saja tidak cukup tanpa kemampuan untuk saling mengerti.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, konflik adalah keniscayaan. Namun, cara menyikapinya adalah pilihan. Ia mengajak keduanya untuk menjadikan komunikasi sebagai jembatan, bukan tembok pemisah. Untuk menjadikan kata-kata sebagai penenang, bukan senjata yang melukai.

Suasana semakin hening ketika ia menutup sesi dengan pesan yang begitu menyentuh, “Rumah tangga yang bahagia bukanlah yang tanpa masalah, tetapi yang mampu bertahan karena saling memahami.”

Di sudut ruangan itu, tak hanya ilmu yang disampaikan, tetapi juga doa yang tak terucap. Harapan agar Wahyu dan Rofiqoh kelak mampu menjaga janji suci mereka, bukan hanya di hari akad, tetapi dalam setiap detik kehidupan yang akan mereka jalani bersama.

Bimbingan itu berakhir, namun bekasnya tinggal—mengendap dalam hati, menguatkan langkah. Sebab pernikahan sejatinya bukanlah akhir dari perjalanan cinta, melainkan awal dari sebuah perjuangan panjang untuk tetap saling menggenggam, meski badai datang menghadang. Dan di hari itu, di KUA Jatilawang yang sederhana, cinta tidak hanya dipersiapkan—ia juga diajarkan untuk bertahan.