HUT RI #81

Puasa Ramadan Hidupkan Nurani Jadi Lebih Peka

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
26 Feb 2026
36x dibaca
SHARE

Banyumas — Di bawah langit Ramadhan yang teduh, langkah-langkah jamaah menyatu menuju Mushola Al Amin. Malam ke-8 Tarawih Keliling (Tarling) bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan ruang perenungan batin yang menggetarkan. Pada malam itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, hadir membawa pesan yang mengalir lembut, namun menghunjam dalam: puasa Ramadhan adalah jalan sunyi menuju pribadi yang lebih baik. Kamis (26/2)

Dalam suasana khusyuk di Mushola Al Amin, lantunan ayat suci dan doa-doa lirih seolah menyelimuti hati jamaah. Muhammad Taubah menyampaikan tausiyah dengan tutur kata yang jernih dan penuh empati. Ia tidak meninggikan suara, namun setiap kalimatnya menggema, mengajak hadirin menengok ke dalam diri—ke ruang-ruang batin yang kerap terabaikan oleh hiruk-pikuk dunia.

“Puasa,” tuturnya dengan nada teduh, “bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan amarah, menundukkan ego, serta membersihkan niat. Dari puasa, kita belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli.” Kata-kata itu jatuh perlahan, seperti embun yang menyejukkan tanah gersang, membuat sebagian jamaah menunduk, mengusap mata yang basah.

Ia menekankan bahwa Ramadhan adalah madrasah ruhani. Setiap hari adalah pelajaran, setiap ujian adalah kesempatan. Dalam lapar, manusia diajarkan empati kepada mereka yang kekurangan. Dalam dahaga, manusia diingatkan akan nikmat yang sering dilupakan. Dan dalam kesunyian puasa, hati dilatih untuk mendengar suara nurani.

Tarling malam ke-8 ini menjadi saksi bahwa dakwah tidak selalu harus lantang. Ia bisa hadir dalam keheningan, dalam bahasa yang merangkul, dan dalam keteladanan. Jamaah dari berbagai usia—anak-anak, orang tua, hingga kaum muda—larut dalam pesan yang universal dan menyentuh sisi terdalam kemanusiaan.

Ketika malam kian larut dan doa penutup dipanjatkan, Mushola Al Amin tidak hanya menyimpan gema bacaan, tetapi juga harapan. Harapan bahwa Ramadhan kali ini benar-benar meninggalkan jejak: menjadikan setiap insan pulang dengan hati yang lebih lembut, sikap yang lebih arif, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik—bukan hanya selama Ramadhan, tetapi sepanjang hayat.