Puasa Syawal Itu Seperti Hadiah Dari Allah Setelah Kita Berjuang di Bulan Ramadan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di sebuah sore yang teduh, ketika cahaya matahari perlahan merunduk di ufuk barat, suasana di TPQ Nurul Huda terasa berbeda. Sejuk, khidmat, dan penuh harap. Di ruangan sederhana itu, puluhan pasang mata santri kecil bersinar, menyimak setiap untaian kata yang disampaikan dengan lembut oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang. Kamis (02/04)
Dengan suara yang tenang namun sarat makna, beliau mengajarkan tentang keutamaan puasa sunah Syawal—sebuah amalan yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan pahala yang begitu agung di sisi Allah SWT. Dalam penjelasannya, Muhammad Taubah menguraikan bahwa siapa saja yang berpuasa Ramadan, lalu menyambungnya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seakan seperti berpuasa sepanjang tahun.
Santri-santri itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Di wajah-wajah polos mereka, tergambar rasa ingin tahu, harap, dan ketulusan yang begitu dalam. Sesekali, Muhammad Taubah menyelipkan kisah-kisah sederhana, agar makna yang disampaikan tak hanya sampai di telinga, tetapi juga meresap ke dalam hati.
“Puasa Syawal itu seperti hadiah dari Allah setelah kita berjuang di bulan Ramadan,” tuturnya dengan penuh kelembutan. “Hadiah bagi siapa saja yang ingin terus dekat dengan-Nya.”
Suasana semakin hening ketika beliau mengajak para santri membayangkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Anak-anak itu terdiam, sebagian menunduk, sebagian lagi tampak berkaca-kaca—seolah hati kecil mereka disentuh oleh sesuatu yang tak kasat mata, namun begitu nyata terasa.
Kegiatan pembelajaran ini bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan cinta—cinta kepada ibadah, cinta kepada kebaikan, dan cinta kepada Sang Pencipta. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat belajar para santri justru menjadi cahaya yang menerangi ruang kecil itu.
Bagi Muhammad Taubah, mengajar bukan hanya tugas, melainkan panggilan jiwa. Setiap kata yang ia ucapkan adalah doa, setiap nasihat yang ia sampaikan adalah harapan, agar generasi muda tumbuh dengan iman yang kokoh dan akhlak yang mulia.
Sore itu pun berakhir dengan doa bersama. Suara lirih para santri mengalun, memohon agar diberi kekuatan untuk mengamalkan ilmu yang telah mereka terima. Di antara mereka, mungkin ada yang kelak akan mengingat hari itu sebagai awal dari perjalanan panjang menuju cinta Ilahi.
Dan di ruang sederhana TPQ Nurul Huda itu, harapan-harapan kecil terus ditanam—tumbuh perlahan, mengakar dalam hati, dan suatu hari nanti, insyaAllah akan berbuah menjadi kebaikan yang tak terhingga.
