HUT RI #81

Rawat Warisan Leluhur: Penyuluh KUA Diskusi tentang Tradisi Begalan Banyumas

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
05 Mar 2026
20x dibaca
SHARE

Banyumas — Di tengah arus modernitas yang kian deras, upaya merawat warisan budaya leluhur menjadi tanggung jawab bersama. Suasana hangat penuh keakraban terasa dalam sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna ketika Ustadz Dedy Purwanto dan KH. Muh. Asyhadi, Penyuluh Agama Islam dari KUA Jatilawang, berdiskusi bersama Nasum, tokoh yang selama ini dikenal tekun menggeluti kebudayaan tradisional khas Banyumas, yaitu Begalan. Kamis (05/03)

Pertemuan yang berlangsung dengan penuh kekhidmatan itu menjadi ruang dialog antara nilai-nilai agama dan kekayaan budaya lokal. Dalam suasana santai namun penuh kesungguhan, ketiganya berbincang tentang bagaimana tradisi Begalan tidak hanya menjadi seni pertunjukan, tetapi juga mengandung pesan moral yang dalam bagi masyarakat.

Begalan sendiri merupakan salah satu tradisi khas Banyumas yang biasanya ditampilkan dalam rangkaian prosesi pernikahan adat. Dalam pertunjukannya, terdapat simbol-simbol dan dialog penuh makna yang menggambarkan nasihat kehidupan rumah tangga bagi pasangan yang akan memulai perjalanan hidup bersama.

Nasum menjelaskan bahwa di balik alat-alat dapur yang dibawa dalam pertunjukan Begalan, tersimpan filosofi kehidupan yang luhur. Setiap benda menjadi simbol tanggung jawab, kesederhanaan, dan kebersamaan dalam membangun rumah tangga.

“Begalan bukan sekadar hiburan,” tutur Nasum dengan mata yang berbinar penuh kecintaan pada budaya. “Di dalamnya ada pesan tentang kerja keras, kejujuran, kesabaran, dan kebersamaan suami istri dalam menghadapi kehidupan.”

Penjelasan tersebut disambut dengan antusias oleh para penyuluh agama yang hadir. KH. Muh. Asyhadi menilai bahwa tradisi seperti Begalan merupakan bagian dari kearifan lokal yang dapat menjadi sarana dakwah kultural jika dipahami dengan bijaksana.

“Islam hadir untuk membimbing kehidupan manusia, termasuk dalam menghargai budaya yang mengandung nilai-nilai kebaikan,” ujarnya. “Selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama, maka ia dapat menjadi jembatan yang indah antara dakwah dan kebudayaan.”

Hal senada juga disampaikan oleh Ustadz Dedy Purwanto, yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pemahaman nilai-nilai agama.

Menurutnya, dialog seperti ini sangat penting agar generasi muda tidak kehilangan jati diri budaya sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.

“Budaya adalah jejak perjalanan jiwa sebuah masyarakat,” tuturnya dengan penuh perenungan. “Jika budaya itu hilang, maka hilang pula sebagian cerita tentang siapa kita sebenarnya.”

Suasana diskusi semakin menyentuh ketika pembicaraan beralih pada kekhawatiran bahwa tradisi-tradisi lokal perlahan mulai dilupakan oleh generasi muda. Di tengah gemerlap budaya modern, tidak sedikit anak-anak yang bahkan tidak lagi mengenal warisan budaya daerahnya sendiri.

Di situlah peran tokoh masyarakat, budayawan, dan para penyuluh agama menjadi sangat penting—menjaga agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tidak tenggelam ditelan zaman.

Pertemuan itu pun berakhir dengan sebuah kesadaran yang sama: bahwa budaya dan agama sejatinya dapat berjalan berdampingan, saling menguatkan dalam menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Di balik percakapan yang sederhana itu, tersimpan harapan yang begitu dalam—agar tradisi Begalan tetap hidup di tengah masyarakat Banyumas, tidak sekadar sebagai pertunjukan budaya, tetapi sebagai warisan kebijaksanaan yang terus menyalakan cahaya nilai-nilai kehidupan bagi generasi yang akan datang.