Saling Berjanji Untuk Tidak Mudah Menyerah Ketika Kehidupan Menghadirkan Kesulitan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Tidak semua hari diciptakan untuk dilupakan. Ada hari yang datang membawa harapan, menyimpan doa, dan kelak dikenang sebagai awal dari sebuah perjalanan panjang. Di Desa Margasana, Kecamatan Jatilawang, suasana penuh khidmat mengiringi pelaksanaan Pencatatan Nikah dan Ijab Qabul pasangan pengantin Imam Edi Saputra dan Shafa Salsabila Jacinda, yang dilaksanakan oleh Iskandar Zulkarnain, Penghulu KUA Jatilawang. Selasa (04/08)
Prosesi sakral tersebut menjadi momentum penting bagi kedua mempelai untuk memasuki babak baru kehidupan. Di hadapan wali, saksi, keluarga, dan orang-orang terkasih, sebuah janji suci diikrarkan. Kalimat ijab dan kabul yang terucap dalam hitungan detik itu sesungguhnya membawa amanah yang panjang—amanah untuk saling mencintai, menjaga, menghormati, dan menemani dalam suka maupun duka.
Ada keheningan yang berbeda ketika akad berlangsung. Barangkali karena setiap orang yang hadir memahami bahwa pernikahan bukan sekadar pertemuan dua nama dalam sebuah dokumen, melainkan pertemuan dua perjalanan hidup. Di balik senyum kedua mempelai, terselip doa orang tua; di balik kebahagiaan keluarga, ada perjuangan panjang yang mungkin tak pernah seluruhnya diceritakan.
Imam Edi Saputra dan Shafa Salsabila Jacinda hari itu memulai perjalanan sebagai pasangan suami istri. Mereka tidak sedang berjanji bahwa kehidupan akan selalu mudah, tetapi sedang berjanji untuk tidak mudah menyerah ketika kehidupan menghadirkan kesulitan. Sebab rumah tangga bukanlah tempat dua manusia sempurna bertemu, melainkan tempat dua manusia belajar menerima kekurangan dan saling menguatkan.
Bagi Iskandar Zulkarnain, menjalankan tugas sebagai penghulu dalam pencatatan nikah dan pelaksanaan ijab qabul memiliki makna yang jauh melampaui urusan administratif. Setiap akad yang disaksikannya adalah sebuah kisah manusia: tentang harapan yang dipanjatkan, keluarga yang merelakan, dua hati yang dipertemukan, dan masa depan yang hendak dibangun dengan fondasi keimanan serta tanggung jawab.
Pencatatan nikah menjadi bagian penting dalam memastikan peristiwa sakral tersebut tercatat secara resmi dan tertib. Namun lebih dari itu, kehadiran penghulu di tengah masyarakat menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pelayanan keagamaan yang profesional sekaligus humanis—pelayanan yang tidak hanya menyelesaikan administrasi, tetapi turut menghormati nilai dan kehormatan setiap keluarga yang datang membawa harapan.
Akad pernikahan mengajarkan satu hal yang begitu dalam: cinta bukan sekadar tentang menemukan seseorang untuk hidup bersama, tetapi tentang kesediaan menjadi tempat pulang bagi seseorang sepanjang perjalanan hidupnya.
Kelak, mungkin akan datang hari-hari ketika senyum berganti air mata, ketika keadaan tidak sesuai harapan, atau ketika langkah terasa berat. Pada saat itulah janji yang diucapkan hari ini akan menemukan maknanya. Sebab kesetiaan tidak diuji ketika semuanya mudah, melainkan ketika bertahan menjadi pilihan yang paling berat.
Mungkin itulah sebabnya akad pernikahan sering membuat hati begitu mudah tersentuh. Karena dalam satu ruangan, bertemu masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus.
Dahulu mereka berdoa agar anaknya menemukan jodoh yang baik. Hari ini doa itu menjelma akad. Dan setelah hari ini, doa mereka berubah: semoga rumah tangga anaknya selalu berada dalam penjagaan Allah.
Semoga langkah mereka senantiasa dinaungi keberkahan. Semoga rezekinya dilapangkan, hatinya dilembutkan, kesalahannya saling dimaafkan, dan setiap perjalanan rumah tangganya menjadi jalan menuju kebaikan.
