Sambangi Pura Awatara SPN Purwokerto, Penyuluh KUA Jatilawang Rawat Toleransi dalam Keberagaman
Purwokerto – Dalam rangka penguatan moderasi beragama, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, berkunjung ke Pura Awatara SPN Purwokerto. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan lintas agama, menumbuhkan toleransi, serta merawat kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Jumat (23/10)
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun kehidupan beragama yang harmonis, saling menghormati, dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Melalui perjumpaan lintas iman, moderasi beragama tidak berhenti sebagai sebuah konsep, tetapi diwujudkan dalam sikap terbuka, kesediaan mendengarkan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Bagi seorang penyuluh agama, pengabdian tidak hanya berbicara tentang menyampaikan ajaran agama kepada umatnya sendiri. Pengabdian juga berarti ikut merawat ruang kehidupan bersama agar setiap warga dapat menjalankan keyakinannya dengan damai, tanpa rasa takut, tanpa penghinaan, dan tanpa kehilangan hak untuk dihormati sebagai sesama manusia.
Pura, sebagai tempat suci umat Hindu, memiliki makna penting bagi umat yang menjalankan ibadah dan tradisi keagamaannya. Kehadiran Muhammad Taubah dalam kunjungan tersebut mencerminkan pentingnya membangun komunikasi lintas agama sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
Moderasi beragama mengajarkan bahwa teguh dalam keyakinan tidak harus diwujudkan dengan merendahkan keyakinan orang lain. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus menghormati hak orang lain untuk beribadah sesuai kepercayaannya.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat moderasi beragama Kementerian Agama Republik Indonesia yang menekankan komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, serta penghormatan terhadap tradisi dan budaya yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar kehidupan berbangsa.
Dalam kehidupan sehari-hari, kerukunan sering kali tumbuh dari tindakan yang sederhana: bersedia menyapa, membuka ruang dialog, menghargai perbedaan, serta tidak mudah menghakimi orang lain hanya karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda.
Sebab, kedamaian tidak lahir ketika semua manusia dipaksa menjadi sama. Kedamaian justru tumbuh ketika perbedaan dapat diterima tanpa kebencian dan setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup berdampingan secara bermartabat.
Kunjungan ke Pura Awatara SPN Purwokerto juga menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga kerukunan bukan hanya berada di pundak tokoh agama atau pemerintah. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan saling menghargai.
Penyuluh agama memiliki posisi strategis untuk menanamkan nilai-nilai tersebut melalui bimbingan, penyuluhan, keteladanan, dan komunikasi yang menyejukkan. Dengan memperluas ruang perjumpaan lintas iman, prasangka dapat dikurangi, kesalahpahaman dapat diluruskan, dan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa dapat diperkuat.
Indonesia dibangun bukan oleh satu warna, melainkan oleh beragam warna yang berpadu dalam satu ikatan kebangsaan. Perbedaan agama, suku, budaya, dan tradisi merupakan kenyataan yang harus dirawat dengan kebijaksanaan, bukan dijadikan alasan untuk saling menjauh.
Pada akhirnya, moderasi beragama menemukan maknanya ketika manusia tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi sungguh-sungguh menghadirkannya dalam kehidupan. Sebab, di balik perbedaan doa dan cara beribadah, ada harapan yang sama: hidup dengan aman, keluarga yang bahagia, masa depan yang lebih baik, dan dunia yang diwariskan dalam keadaan damai kepada generasi berikutnya.
Ketika tangan bersedia menjabat tanpa prasangka dan hati terbuka untuk saling menghormati, perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa kemanusiaan selalu memiliki ruang di atas segala sekat.
