Sampaikan Kebenaran Wahyu, Penyuluh Kebasen Bedah Hadits Kedua Shahih Bukhari di Masjid Nurul Muttaqin
Oleh KUA kebasen
Kebasen – Jamaah Masjid Nurul Muttaqin, Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, mendapatkan siraman rohani yang mendalam dalam kajian rutin bakda Dzuhur. Kajian kali ini secara khusus membedah Kitab Shahih Bukhari hadits kedua yang mengulas tentang proses dan cara turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Selasa (14/07)
Hadir sebagai narasumber, Burhanul Ma'arif, Penyuluh Agama Islam fungsional Kecamatan Kebasen. Di hadapan puluhan jamaah yang menyimak dengan khidmat, ia memaparkan betapa luar biasanya perjuangan fisik dan spiritual Rasulullah SAW saat menerima firman-firman Allah SWT.
Dijelaskan bahwa hadits kedua dalam Shahih Bukhari ini bersumber dari riwayat Ummul Mukminin Aisyah RA, ketika Harits bin Hisyam RA bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai bagaimana wahyu turun kepadanya.
"Rasulullah SAW menjawab bahwa wahyu turun dalam dua keadaan utama. Pertama, datang seperti suara gemerincing lonceng (salsalatul jaras), dan ini adalah keadaan yang paling berat bagi beliau. Kedua, malaikat Jibril datang menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara langsung kepada beliau," papar Burhanul.
Ia juga menambahkan catatan sejarah dari Sayyidah Aisyah RA yang menyaksikan bahwa pada hari yang sangat dingin sekalipun, kening Rasulullah SAW tetap bercucuran keringat sesaat setelah wahyu selesai diturunkan karena saking beratnya beban risalah tersebut.
Melalui kajian singkat pasca-shalat fardhu ini, Burhanul Ma'arif mengajak jamaah Masjid Nurul Muttaqin untuk mengambil hikmah mendalam:
- Menghargai Al-Qur'an: Menyadari bahwa setiap ayat yang hari ini kita baca dengan mudah, diturunkan dengan perjuangan yang sangat berat oleh Rasulullah SAW.
- Pentingnya Sanad Keilmuan: Mempelajari hadits-hadits shahih agar pemahaman keislaman umat tetap murni dan bersambung kepada Rasulullah SAW
