HUT RI #81

Semakin Besar Nikmat Maka Semakin Besar Tanggung Jawab Untuk Bersyukur, Penyuluh Edukasi Santri TPQ Nurul Huda

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
30 Okt 2026
10x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 01-11-2026 20:16
SHARE

Jatilawang – Rasa syukur bukan sekadar ucapan yang terlantun di bibir, melainkan sikap hati yang tercermin dalam perilaku dan perbuatan. Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat melaksanakan Bimbingan Penyuluhan (Bimluh) kepada para santri TPQ Nurul Huda dengan materi “Meneladani Syukur Nabi Sulaiman AS.” Jumat (30/10)

Dalam penyampaian materinya, Muhammad Taubah mengajak para santri mengenal keteladanan Nabi Sulaiman AS, seorang nabi yang dianugerahi kekuasaan, kekayaan, ilmu pengetahuan, serta berbagai keistimewaan oleh Allah SWT. Meski memiliki segala kemuliaan tersebut, Nabi Sulaiman tidak pernah menjadikan nikmat sebagai alasan untuk berbangga diri. Sebaliknya, beliau senantiasa menyadari bahwa seluruh karunia berasal dari Allah dan harus digunakan untuk kebaikan.

Keteladanan itu tercermin dalam doa Nabi Sulaiman sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an Surah An-Naml ayat 19, yang memohon agar Allah membimbingnya untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Nya dan mengerjakan amal saleh yang diridai-Nya.

Muhammad Taubah menekankan bahwa anak-anak dapat belajar bersyukur melalui kebiasaan sederhana, seperti berterima kasih kepada orang tua dan guru, menghargai makanan, menjaga kesehatan, rajin belajar, serta berbagi dengan sesama. Syukur juga berarti tidak mudah mengeluh, tidak meremehkan pemberian orang lain, dan tidak menggunakan kelebihan diri untuk menyombongkan diri.

Melalui Bimluh ini, para santri diharapkan tidak hanya mengenal kisah Nabi Sulaiman AS, tetapi juga mampu menanamkan nilai syukur dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ilmu yang dipelajari akan semakin bermakna ketika menjelma menjadi akhlak.

Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa semakin besar nikmat, semakin besar pula tanggung jawab untuk bersyukur. Sebab, hati yang pandai bersyukur tidak akan sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, tetapi senantiasa memuliakan setiap karunia yang telah Allah beri.