Seni Kendalikan Emosi dalam Perspektif Akhlak Islam
Banyumas - Menjaga ketenangan jiwa di tengah dinamika kehidupan sehari-hari merupakan tantangan tersendiri bagi setiap individu. Guna memberikan wawasan spiritual mengenai pentingnya pengelolaan diri, Penyuluh KUA Wangon kembali menggelar kegiatan pembinaan keagamaan di Majelis Taklim Nurul Furqon, Desa Pengadegan. Mengangkat tema seni mengendalikan emosi dalam perspektif akhlak Islam, pengajian ini menjadi sarana edukasi spiritual yang sangat dibutuhkan oleh jemaah dalam merawat keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Jumat (23/10)
Kegiatan bimbingan spiritual tersebut disampaikan oleh Joharulloh, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon. Di hadapan para jemaah yang hadir, materi dipaparkan secara runtut dan mendalam dengan menyelaraskan ajaran Al-Qur'an serta Sunnah Nabi Muhammad SAW. Pendekatan yang dibawakan berfokus pada pemahaman bahwa emosi seperti amarah dan rasa cemas adalah fitrah manusia, namun ajaran Islam memberikan tuntunan yang sangat indah untuk mengolah emosi tersebut menjadi energi positif yang menenangkan.
Dalam pemaparannya, Joharulloh menekankan berbagai metode praktis berlandaskan syariat Islam untuk meredam gejolak emosi saat menghadapi ujian hidup. Langkah-langkah mulia seperti membaca ta'awudz, berwudu untuk memadamkan hawa nafsu, mengubah posisi tubuh, hingga memilih untuk diam saat marah dijelaskan secara rinci sebagai bentuk seni pengendalian diri. Penguasaan emosi yang baik dipandang sebagai cerminan dari kekuatan iman serta keluhuran akhlak seorang mukmin sejati.
Jemaah Majelis Taklim Nurul Furqon Pengadegan menyimak setiap poin bimbingan dengan penuh antusias dan suasana yang khusyuk. Penjelasan materi yang aplikatif dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari membuat para peserta pengajian mudah menyerap nilai-nilai yang disampaikan. Majelis ilmu ini pun menjadi ruang refleksi bersama untuk saling mengingatkan pentingnya bersabar, menahan diri, serta mengedepankan sifat pemaaf dalam berinteraksi dengan sesama.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, KUA Wangon terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kesadaran moral dan spiritual masyarakat hingga ke tingkat desa. Pembinaan akhlak mengenai pengendalian emosi ini diharapkan dapat membentuk karakter jemaah yang lebih tenang, bijaksana, dan santun dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Kegiatan pembinaan serupa dipastikan akan terus berlanjut guna menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis, damai, dan berakhlak mulia. (jhr)
