Serius Tekan Stunting 2026, Purwokerto Barat Satukan Kekuatan di Pra Musrenbang Tematik
Oleh HUMAS
Purwokerto – Penyuluh Agama Islam KUA Purwokerto Barat menghadiri kegiatan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pra Musrenbang) Tematik Stunting Tahun 2026, mewakili Kepala KUA Purwokerto Barat. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Purwokerto Barat dan dihadiri langsung oleh Camat Purwokerto Barat, Perwakilan KUA Purwokerto Barat, unsur Forkopimcam, para lurah se-Kecamatan Purwokerto Barat, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), kader Posyandu, bidan kelurahan, serta Ketua TP PKK. Kamis (05/02)
Acara diawali dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual dalam mendukung upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah Purwokerto Barat.
Dalam pemaparannya, Camat Purwokerto Barat, Arief Efendi, menyampaikan materi terkait Kebijakan Nasional dan Daerah dalam Pelaksanaan Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS). Ia menjelaskan bahwa pemerintah secara nasional menargetkan penurunan angka stunting hingga 14 persen sejak tahun 2020, sejalan dengan kebijakan yang diperkuat melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.5.7 Tahun 2025.
Adapun sasaran utama pencegahan dan percepatan penurunan stunting meliputi ibu hamil, ibu nifas dan menyusui, baduta (usia 0–23 bulan), balita (24–59 bulan), remaja putri, calon pengantin, serta rumah tangga dan masyarakat secara luas.
Camat juga menekankan pentingnya intervensi terkoordinasi melalui Aksi Konvergensi yang berlandaskan enam pilar Strategi Nasional Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, yaitu komitmen politik pemerintah, perubahan perilaku masyarakat, kemitraan lintas sektor, ketahanan pangan dan gizi, peningkatan kapasitas pengelolaan program, serta pemantauan dan evaluasi berkelanjutan.
Salah satu contoh program ketahanan pangan yang disampaikan adalah Pekarangan Pangan Lestari di wilayah Rejasari, yang memanfaatkan pekarangan rumah warga untuk kebutuhan pangan keluarga. Selain itu, dijelaskan pula keterkaitan program PKH dengan sasaran keluarga berisiko stunting, termasuk ibu hamil, balita, lansia, dan penyandang disabilitas.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Sekretaris Camat Purwokerto Barat yang memaparkan hasil analisis situasi tematik stunting tahun 2025. Dalam laporan tersebut, terdapat tujuh indikator yang belum tercapai pada semester kedua tahun 2025.
Beberapa permasalahan yang menjadi sorotan antara lain masih rendahnya pemahaman gizi seimbang pada ibu hamil, kurangnya pemberian ASI eksklusif karena faktor pekerjaan, keterbatasan anggaran penanganan balita gizi buruk, tingginya kasus diare pada baduta, serta belum optimalnya konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri.
Untuk mengatasi hal tersebut, direkomendasikan berbagai langkah strategis, seperti penyuluhan gizi kepada masyarakat, pembentukan kelompok pendukung ASI, penguatan program prioritas penanganan gizi buruk, serta koordinasi dengan sekolah dalam distribusi tablet tambah darah.
Dalam kesempatan tersebut, ahli gizi Puskesmas Purwokerto Barat juga memberikan penjelasan terkait ciri-ciri balita gizi buruk, di antaranya cekungan mata, perut buncit, dan tulang iga yang tampak menonjol. Selain itu, disampaikan pula keberlanjutan program unggulan Shodaqoh Cantik yang telah berjalan sejak 2022 untuk membantu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita kurang gizi melalui pemberian susu, telur, serta makanan bergizi lainnya.
Kegiatan Pra Musrenbang Tematik Stunting ini bertujuan untuk memperkuat sinergi lintas sektoral dalam merumuskan program prioritas yang realistis dan tepat sasaran demi menurunkan angka stunting di Kecamatan Purwokerto Barat pada tahun 2026.
Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menyatukan langkah dalam upaya pencegahan stunting sebagai investasi jangka panjang untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
2.png)