Seruan Haru dari Mushola Al Ishlah Untuk Raih Surga Bersama Melalui Puasa Ramadhan
Banyumas — Suasana malam Ramadhan ke-22 di Mushola Al Ishlah, terasa begitu khusyuk dan menggetarkan jiwa. Di tengah hembusan angin malam yang lembut dan cahaya lampu mushola yang temaram, ratusan jamaah berkumpul dalam kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) yang dipandu oleh Penyuluh Agama KUA Jatilawang, Muhammad Taubah. Kamis (12/03)
Kegiatan yang berlangsung selepas salat tarawih itu tidak sekadar menjadi rutinitas ibadah tahunan, tetapi menjelma menjadi momentum spiritual yang menggugah hati. Dalam tausiyahnya yang sarat makna dan penuh kehangatan, Muhammad Taubah menyampaikan pesan mendalam tentang keindahan memasuki surga Allah secara bersama-sama melalui wasilah puasa Ramadhan.
Dengan suara yang tenang namun penuh penekanan batin, ia mengajak jamaah merenungi bahwa Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan jalan suci untuk membersihkan hati, mempererat kasih sayang, serta membangun kebersamaan menuju ridha Ilahi.
“Puasa Ramadhan adalah undangan cinta dari Allah kepada hamba-Nya. Siapa yang menjalaninya dengan iman dan penuh keikhlasan, maka Allah tidak hanya menjanjikan pahala, tetapi juga membuka pintu surga,” ungkapnya di hadapan jamaah yang larut dalam keheningan.
Ia menambahkan, kebahagiaan sejati seorang mukmin bukan hanya ketika dirinya selamat menuju surga, tetapi ketika ia dapat menggandeng orang-orang yang dicintainya—keluarga, tetangga, dan sahabat—untuk masuk ke dalamnya bersama-sama.
Pesan itu membuat suasana mushola menjadi hening. Beberapa jamaah tampak menundukkan kepala, sebagian lainnya mengusap sudut mata yang basah oleh haru. Bagi mereka, kata-kata yang disampaikan bukan sekadar ceramah, melainkan panggilan hati untuk memperbaiki diri dan memperkuat ukhuwah.
Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat mulia, ketika setiap amal kebaikan memiliki nilai yang berlipat ganda di sisi Allah. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk memperbanyak ibadah, memperhalus akhlak, serta menumbuhkan kepedulian sosial kepada sesama.
“Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja. Jadikan puasa ini sebagai wasilah agar kita dipertemukan kembali di surga Allah kelak—bukan sendirian, tetapi bersama keluarga dan saudara-saudara kita,” tuturnya dengan nada penuh harap.
Kegiatan Tarling malam ke-22 itu pun ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Muhammad Taubah. Di bawah langit malam yang sunyi, lantunan doa mengalir lembut, memohon agar Allah menerima setiap amal ibadah yang telah dilakukan dan mempertemukan seluruh jamaah dalam kebahagiaan abadi di surga-Nya.
Bagi masyarakat sekitar Mushola Al Ishlah, malam itu menjadi salah satu malam Ramadhan yang tak mudah dilupakan. Sebab di sana, di antara sujud dan doa yang khusyuk, tumbuh harapan yang sama: kelak, di kehidupan yang abadi, mereka dapat berjalan bersama menuju pintu surga.
